PBNU: Nama Indonesia Sudah Disebut Ulama 100 Tahun sebelum Ditemukan Barat

Minggu, 11-06-2017 - 13:08 WIB Kajian aswaja dan bela negara di halaman Masjid Agung Kota Blitar.(Foto : Mahathir Muhammad/BlitarTIMES) Kajian aswaja dan bela negara di halaman Masjid Agung Kota Blitar.(Foto : Mahathir Muhammad/BlitarTIMES)

JATIMTIMES, BLITARLakpesdam NU Kota Blitar mengadakan Kajian Aswaja dan Bela Negara di halaman Masjid Agung Kota Blitar, Sabtu (10/6/2017). Acara yang dimulai pada pukul 20.30 WIB mengusung tema  "Satukan Langkah Membangun Negeri Menjaga NKRI" dengan mendatangkam narasumber KH Adnan Anwar (PBNU) dan Dr Ainur Rofik (Penulis buku Membongkar Proyek Khilafah).

KH Adnan Anwar mengatakan bahwa konsepsi NKRI sudah disiapkan para ulama jauh sebelum Indonesia merdeka. Hal ini dibuktikan dengan salah satu dokumen tahun 1783 hasil batsul masail di Masjid Baiturahman Aceh yang isinya jika Nusantara ini menjadi negara, maka namanya adalah Al Jumhuriyah Al Indonesia.

"Saya sudah melacak berbagai dokumen dari Aceh sampai Pattani Thailand, bahkan ke perpustakaan di Berlin menemui Profesor Bastian bahwa nama Indonesia baru ditemukan oleh Barat tahun 1892. Padahal nama Indonesia sudah ada pada  tahun 1783 dan dibentuk oleh ulama-ulama di Aceh,” ungkapnya.

KH Adnan Anwar juga menambahkan bahwa NKRI sudah sangat islami karena bangunan dan konsepsi NKRI banyak ulama terlibat di dalamnya. "Habib Salim Al Jufri,  pendiri Al Khairot di Kota Palu (Sulawesi Tengah) yang juga adik kelas Mbah Hasyim Asyari  pernah mengatakan bahwa beliau pernah bermimpi Nabi Muhammad SAW dan pesan dalam mimpi itu adalah nanti kalau Indonesia merdeka benderanya adalah Merah Putih," tambahnya.

Bahkan Muktamar NU tahun 1937 atas pesan Habib Salim Al Jufri, Mbah Hasyim Asyari  mengusulkan bahwa bendera Indonesia adalah Merah Putih dan Soekarno adalah pemimpinnya. "Ulama-ulama kita sangat cinta NKRI. Mbah Hasyim Asyari sering menangis ketika menyanyikan Indonesia Raya. Bahkan, pencipta lagu Padamu Negeri adalah habib atau ulama. Makanya jika ada yang ingin mengganti Indonesia dengan negara Islam atau khilafah, maka sesungguhnya mereka tidak belajar sejarah dan mengingkari perjuangan dari ulama-ulama Nusantara," tandasnya.(*)

Pewarta : Mahathir Muhammad
Editor : Lazuardi Firdaus
Sumber : Blitar TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close