Kunjungi Bangunan Kolonial, Mahasiswa Diajak Pahami Konteks Ilmiah Sejarah Bangunan

Kamis, 12-10-2017 - 08:54 WIB Beberapa karya Arsitektur Estrougie yang Khas di Surabaya Beberapa karya Arsitektur Estrougie yang Khas di Surabaya

JATIMTIMES, SURABAYA – Arsitektur kuno peninggalan kolonial Belanda masih banyak ditemukan di wilayah Jawa Timur, utamanya di Surabaya. Seni bangunan tersebut menjadi aset berharga untuk memperluas wawasan mahasiswa calon arsitek di masa mendatang.

Pada masa kolonial, banyak arsitek kenamaan Eropa yang menumpahkan karya terbaiknya dalam sejumlah bangunan yang berdiri di beberapa sudut kota. Meski sudah puluhan tahun berselang, beberapa bangunan masih dapat kita nikmati dan cermati sisi arsitekturnya.

Menekankan pentingnya wawasan tersebut, Program Studi Arsitektur Universitas Kristen Petra menggelar workshop International Estourgie Architecture pada 26 peserta mahasiswa, Rabu (11/10) siang di meeting room Arsitektur lantai 6 gedung P kampus UK Petra, Surabaya.

Henry Louis Jean Marie Estourgie atau dikenal Estourgie merupakan salah satu arsitek terkenal pada masa kolonial yang karyanya banyak ditemui di Jawa Timur bahkan di Kalimantan. Kegiatan ini mengajak mahasiswa mengkaji aspek estetik, sejarah, dan sosial komunitas dari karya arsitektur Estourgie.

Dosen Program Studi Arsitektur UK Petra Timoticin Kwanda, B.Sc., MRP, Ph.D mengatakan, mahasiswa arsitektur dalam menggarap proyeknya seringkali abai atau mengesampingkan konteks sejarah yang ilmiah. Padahal konteks ini juga menjadi satu elemen penting yang harus diperhatikan dalam suatu proyek.

"Nilai arsitektur dan sejarah kehidupan tidak banyak diperhatikan. Seringkali mahasiswa membikin proyek bangunan yang wahh! Pokoknya mewah dan ikonik tapi mereka mengesampingkan dan tidak memahami konteks ilmiah sejarahnya," tandas Timoti.

Dia menambahkan, workshop Estourgie Project merupakan bagian dari hibah penelitian yang diperoleh dari Kedutaan Besar Belanda.

“Hibah ini merupakan hibah penelitian yang saya buat sejak tahun 2016 yang lalu, yang mana arsitek Estourgie dan karya-karyanya belum begitu dikenal oleh para akademis arsitektur dan masyarakat umum di Indonesia, Sehingga saya tertarik untuk mengungkapkan karakter khas bangunannya kepada publik”, ungkap Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UK Petra itu. 

Sebagai pemateri, Timoticin merupakan seorang ahli konservasi arsitektural membahas mengenai nilai sejarah di dalam bangunan kolonial Belanda. Pada kesempatan tersebut juga melibatkan Dr. Pauline KM. van Roosmalen (Konsultan riset warisan budaya PKMVR). 

Pauline merupakan seorang sejarawan arsitektur berkebangsaan Belanda yang mengkhususkan diri pada sejarah arsitektur kolonial. Dr. Pauline memberikan gambaran mengenai arsitektur Kolonial Belanda khususnya karya-karya arsitek Estourgie. Pasalnya, Pauline sendiri telah wawancarai langsung bersama putra dan keturunan ketiga dari H.L.J.M Estourgie.

“Setiap bangunan yang berusia di atas 50 tahun ini pasti mempunyai nilai sejarah yang unik, dengan karakter khasnya sendiri yang mengacu pada tampilan keseluruhan bentuk bangunan, bahan, keahlian, detail dekoratif, ruang interior dan fitur, serta lingkungannya. Sehingga sangat menarik untuk dibagikan sebagai pembelajaran sejarah perkembangan arsitektur kolonial Belanda saat ini,” ujar Pauline.

Tak hanya lokakarya, mahasiswa juga diajak melakukan kunjungan lapangan di beberapa tempat di Surabaya yang merupakan karya-karya arsitek Estourgie untuk kemudian dibahas secara bersama-sama.

Kunjungan lapangan ini untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan bangunan bersejarah yang dirancang oleh H.L.J.M. Arsitek Estourgie (1925-1957) untuk mengungkapkan keunikannya.

"Pastinya, mahasiswa arsitektur bisa belajar banyak dari keunikan bangunan kolonial ini dan nilai-nilai estetikanya, dan mendapatkan pengetahuan tentang masa lalu yang akan mengilhami ekspresi dalam desain bangunan baru di masa depan”, tutup Timoticin. 

Pewarta : Phaksy Sukowati
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Angga .
Sumber : Surabaya TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close