Siapa "Makelar" Bedah Rumah di Aryojeding Rejotangan (Bagian - 5)

Dinasnya Dicatut, Ini Kata Kepala Dinasnya

Selasa, 13-02-2018 - 18:30 WIB Kondisi rumah Sumarmi yang hampir roboh menanti bantuan bedah rumah yang tak kunjung datang (foto : Anang Basso/ Jatim Times) Kondisi rumah Sumarmi yang hampir roboh menanti bantuan bedah rumah yang tak kunjung datang (foto : Anang Basso/ Jatim Times)

JATIMTIMES, TULUNGAGUNG – Merasa dicatut dalam bedah rumah di Rejotangan yang tak kunjung terealisasi,  kepala Dinas Pengairan, Pemukiman dan Perumahan Rakyat Kabupaten Tulungagung, Sudarto bereaksi. Sudarto segera memerintahkan kepada staffnya untuk mengusut tuntas permasalahan itu. "Saya akan perintahkan staff saya untuk mengusut hal itu," kata Sudarto dengan tegas.


Sudarto yang tidak terima dengan pencabutan nama dinasnya oleh oknum yang mengaku sebagai petugas pendataan itu segera melakukan tindakan. Meski saat ditanyakan dirinya belum tahu pasti tindakan yang akan ditempuh. "Kita akan mengambil tindakan atas hal ini," imbuh pria asal Pare itu.

Jika memang ada pendataan yang dilakukan oleh staffnya, dirinya meminta agar bedah rumah yang belum terealisasi hingga hampir setahun itu segera diselesaikan. "Kalau memang ada, harus segera diselesaikan," tandasnya.


Sebelumnya beberapa warga berharap bantuan bedah rumah segera direalisasikan. Apalagi sudah hampir setahun, tak kunjung ada kejelasan dari Dinas terkait. Seperti halnya Sumarmi, saat Tulungagung TIMES mendatangi rumahnya yang berdiri di belakang rumah orang tuanya. Rumahnya berdinding gedek (anyaman bambu) dengan lantai tanah. Kondisi rumah reot itu tampak sudah miring, Sumarmi mempersilakan duduk di emperan rumah. "Saya berharap fondasi yang sudah saya bangun dan sudah difoto itu segera dibangun," kata Sumarmi.

 
Sarengat yang juga turut dalam perbincangan itu menceritakan jika rumah yang digunakan oleh keluarganya juga hasil dari bedah rumah tahun 2015. "Rumah saya itu juga dari bedah rumah tahun 2015. Tapi tidak seperti ini (nasib rumah anaknya). Rumah saya itu begitu disurvei, dua bulan langsung dibangun," ungkap dia.

Sarengat menerangkan jika dirinya selama setahun telah membuat batako dan mendatangkan material lainnya. "Jika uangnya cair, material sudah ada, maka uangnya bisa untuk perbaikan dan upah tukang. Itu pun jika diperbolehkan. Soalnya sudah lama tidak realisasi. Jadi, uang yang saya simpan takut habis, mending saya belikan material," cerita Sarengat 

Keluarga Sarengat tetap meminta agar program itu dilanjutkan seperti rumah miliknya meski dirinya tidak tau harus pada siapa dia menagih. "Ya saya harap pada desa untuk mengurus agar ini dapat kepastian, sampean lihat sendiri rumah anak saya yang kondisinya seperti itu," katanya. 

Kejadian di Kedungmanten merupakan satu contoh proyek bedah rumah yang belum ada kejelasan selama hampir setahun ini. Di Rejotangan ternyata bukan hanya di Desa Aryojeding. Sedikitnya ada lima desa yang telah diajukan dengan jumlah pengajuan sebanyak 150 unit rumah. Adapun lima desa yang dimaksud adalah Aryojeding, Sumberagung, Tanen, Rejotangan, dan Blimbing. 

"Aryojeding tidak terlalu banyak. Yang paling banyak itu Sumberagung dan Rejotangan," kata Mustajudin Alwi, orang yang disebut Kepala Dusun Kedungmanten Yuni Eko Hariyoso sebagai orang yang membawa kabar program bedah rumah di desanya. 

Mustajudin menjelaskan bahwa dirinya hanyalah orang yang direkrut salah satu CV (mengaku lupa namanya) untuk melakukan pendataan dan pengajuan ke Dinas Pengairan dan Perumahan. "Saya dikontrak hanya satu bulan. Hasil pendataan sudah saya serahkan ke CV dan oleh CV itu sudah diserahkan ke dinas untuk menjadi acuan pengajuan ke kementerian," ucap dia. 

Pewarta : Joko Pramono
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Tulungagung TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close