Modal Bulu Jago, Warga Blitar Ini Raup Rupiah dari Aksesori Suku Apache

Rabu, 14-02-2018 - 21:54 WIB Arya menujukkan aksesori Suku Apache buatannya yang terbuat asli dari bulu-bulu ayam yang dirangkai cantik. (foto:M.Prayogo/JatimTIMES) Arya menujukkan aksesori Suku Apache buatannya yang terbuat asli dari bulu-bulu ayam yang dirangkai cantik. (foto:M.Prayogo/JatimTIMES)

JATIMTIMES, BLITAR – Kalau di tangan orang kreatif, bulu ayam-ayam jago bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Seperti yang dilakoni Aryatus Solihin (37), warga Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, dalam membuat aksesori Suku Indian Apache.

Aksesori  ini kalau dilihat keseluruhannya berbahan dasar dari bulu-bulu ayam. Lalu dirangkai menggunakan benang hingga membentuk pola-pola tertentu. Aksesori ini bagus untuk dijadikan hiasan-hiasan dinding.

Juga dia membuat topi khas suku indian yang seperti terlihat di film-film. Topi ini berbahan sepenuhnya dari bulu saja.

“Ya benar semuanya ini asli dari bulu. Jadi, begitu saya ketika ada pesanan selalu kerja sama dengan tukang jagal ayam untuk menyisakan bulunya,” ujar pria yang biasa disapa Arya ini.

Sedangkan harga yang dia patok berkisar sekitar Rp 100 hingga 300 ribu, berdasar besar kecilnya barang. Dan dia menjualnya secara online apabila ada yang memesan. Juga, produksi Arya  biasa dipesan pedagang kerajinan tangan yang ada di wisata makam Bung Karno.

Namun jarang masyarakat yang tahu rumahnya. Hal tersebut memang dia tidak publikasikan karena dia tidak ingin ada yang tahu kalau dia memproduksi kerajinan ini. Sebab kerajinan ini hanya sedikit orang di Blitar yang melakoninya. Dan dia takut kalau asal meniru akan membuat kualitas turun yang bisa membuat pasaran kerajinan ini menurun.

“ Jarang yang boleh tahu karena saya takut kalau nanti diekplor dan dimanupulasi kualitasnya menjadi tak terjaga. Karena membuatnya cukup rumit dan tidak semua orang bisa membuatnya dengan kualitas baik. Bahkan saya tidak beri tahu orang sekitar rumah kalau saya membuat kerajinan ini,” ucap bapak dua anak ini.

Untuk omzet sendiri dia belum bisa memastikan karena untuk modal sendiri dia kurang. Sehingga dia tidak setiap hari memproduksi. Hanya saja ketika ada pesanan dari para pedagang atau temannya baru dia membuat.

“ Waktu rame itu biasanya waktu Agustusan banyak yang pesan baju dan aksesori bertema entik,” katanya. (*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Blitar TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close