BRI Disebut Salahi Prosedur Hukum, Dua Anak Yatim Piatu ini Terancam Kehilangan Rumah

Selasa, 13-03-2018 - 09:37 WIB Nova Efendi memperlihatkan berkas perjanjian BRI dengan almarhumah ibunya.(Foto : Aunur Rofiq/JatimTIMES) Nova Efendi memperlihatkan berkas perjanjian BRI dengan almarhumah ibunya.(Foto : Aunur Rofiq/JatimTIMES)

JATIMTIMES, BLITAR Di usianya yang masih muda, Nova Caesario Efendi (26) sudah harus kehilangan kedua orang tuanya. Beban di pundaknya pun kian berat karena adanya kasus utang piutang almarhum Ibunya dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Wlingi sehingga sia terancam kehilangan tanah, rumah dan toko bangunan warisan kedua orang tuanya.  

Setelah ibunya, Retno Arini Widiastuti, meninggal dunia setahun yang lalu, kuliah Nova di Universitas Brawijaya Malang  harus terhenti karena biaya. Dia kini mengasuh adik semata wayangnya, Ananda Caesario Efendy (16), yang duduk di bangku kelas 3 SMP.

 Adanya kasus utang piutang dengan BRI cukup membuat mental kedua anak ini terguncang. Diketahui semasa hidup, Retno Arini pernah meminjam uang Rp 1,6 miliar kepada BRI Cabang Wlingi. Uang itu digunakan untuk tambahan modal toko bangunan yang berlokasi di Jalan Bengawan Solo, Kelurahan Pakunden, Kota Blitar.  Saat Retno meninggal dunia karena penyakit TBC pada tahun 2017, utang itu belum lunas.

“Saya tidak tahu sama sekali mengenai utang itu karena almarhumah ibu tidak pernah bilang. Setelah ibu meninggal, tiba-tiba ada dua orang dari BRI yang datang ke rumah saya dan minta rumah saya segera dikosongkan karena ibu punya utang ke mereka,” kata Nova kepada BLITARTIMES, Senin (12/3/2018).

Nova didampingi kuasa hukumnya  berusaha menyelesaikan masalah ini baik-baik dengan mediasi. Namun miris, pihak BRI bersikeras ingin tetap melelang aset peninggalan Retno Arini yang kini ditempati Nova dan adiknya.

“Kami telah berusaha menyelesaikan masalah ini baik-baik karena Nova dan adiknya masih di bawah umur dan keduanya tidak terlibat apa pun dalam urusan utang-piutang ini,” kata Dian Fericha, kuasa hukum Nova.

Menurut Dian Fericha, dari kasus ini BRI tidak mengindahkan unsur kehati-hatian. Sebab, ketika Retno menandatangani kesepakatan  kredit dengan BRI, kedua anaknya tidak dilibatkan. Karena unsur ini, perjanjian kredit sudah seharusnya batal demi hukum. Sehingga lelang yang harusnya dilaksanakan pada 14 Maret 2018 sudah seyogyanya dibatalkan karena cacat hukum.

“Harusnya ada satu kesatuan. Pemegang hak adalah tiga orang itu. Dari sini dapat disimpulkan bahwa langkah BRI ini cacat hukum. Apabila BRI menyimpulkan kredit ini menjadi sebuah kredit yang harus dilunasi, ini tidak bisa. Menurut hukum, ini tidak akan terjadi karena unsur perjanjiannya tidak terpenuhi. Kami minta perjanjian ini dibatalkan,” tandasnya.

Lebih dalam dia menyampaikan, sudah seharusnya BRI sebagai BUMN melihat asas humanisme dari kasus ini. Terlebih Nova dan adiknya adalah anak yatim piatu. Sesuai Undang-Undang 1945 Pasal 34 menyebutkan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.

Ditegaskan, apabila tetap bersikeras melakukan lelang, pihak klien akan melaporkan BRI ke polisi. "Anak ini belum bekerja dan masih sekolah. Sementara yang satunya masih dibawah kemampuan. Keduanya belum cakap dalam melakukan tindakan hukum. Apabila BRI tetap bersikeras melakukan lelang, kami akan laporkan BRI ke polisi karena BRI ada kesalahan prosedur. BRI tidak melihar asas dasarnya prudencial. Mereka hanya pikirkan bisnis semata,” tuntasnya. (*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Alfin Fauzan
Sumber : Blitar TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close