Warga Singosari Terduga Teroris Sempat Jadi Ketua RT Dua Periode

Kamis, 17-05-2018 - 18:05 WIB Suasana rumah terduga teroris atas nama Hari Sudarwanto yang ditembak mati Tim Densus 88 Anti-teror di Sidoarjo. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES) Suasana rumah terduga teroris atas nama Hari Sudarwanto yang ditembak mati Tim Densus 88 Anti-teror di Sidoarjo. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

JATIMTIMES, MALANG – Dua terduga teroris ditembak Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri di Perumahan Auri, Jalan Avia, Kota Sidoarjo, Rabu (16/05/2018) malam. Salah satunya yakni Hari Sudarwanto alias Hari Singosari, warga Perum Bukit Singosari Raya G.1/06 RT 01/RW 10 Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun MalangTIMES, Hari ditembak bersama terduga teroris lain bernama Wawan. Namun Hari disebut-sebut melakukan perlawanan sehingga terpaksa ditembak mati oleh anggota Densus 88. Kabar kematian Hari sendiri mengejutkan para tetangga yang tinggal di Desa Candirenggo.

Terlebih, berbeda dengan keseharian para terduga teroris lain, Hari dikenal supel dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Hari juga merupakan salah satu penghuni lama yang tinggal lebih dari 20 tahun di lokasi tersebut. "Kami kaget sekali, karena orangnya baik. Setahu saya dia jadi bagian dari pengurus perumahan. Nggak percaya kalau dia ada benar-benar terkait teroris," ujar Slamet Mulyono, salah satu tetangga Hari.

Menurutnya, Hari dan istrinya sangat aktif dalam kegiatan sosial. "Pernah jadi ketua RT dua periode, tahun ini tapi sudah tidak menjabat. Kalau istrinya malah masih aktif sebagai bendahara PKK di sini," terangnya. Hari juga merupakan salah satu donatur dan juga pengurus masjid di lingkungan tersebut. 

Selain istri, Hari juga memiliki empat orang anak. Yang paling dewasa saat ini tengah menuntaskan kuliah sementara yang terkecil masih berusia sekitar 6 tahun. "Aktif sekali di kegiatan sosial. Tetapi tiap minggu dia kalau kerja bakti nggak bisa, katanya ngaji," tambah Slamet. 

Sehari-hari, Hari dikenal sebagai penjual buku sekaligus pegawai swasta salah satu percetakan. Mengenai informasi bahwa Hari merupakan penjual bahan kimia, Slamet mengaku tidak tahu. 

Mengenai penampilan, menurutnya Hari sekeluarga seperti warga kebanyakan. Istrinya juga tidak bercadar. "Rumahnya kosong sekitar empat hari, katanya ibu mertuanya sakit di Sidoarjo. Makanya warga kaget saat pagi tadi beredar berita kalau tertembak," paparnya.

Di pertemuan beberapa waktu lalu, berbarengan dengan kegiatan sosialisasi BNN Kabupaten Malang di lingkungan tersebut, menurut Slamet, Hari sempat menunjukkan kain kafan atau kain mori. "Pak Hari mau dimakamkan di sini. Kalau kain mori itu sebenarnya biasa disimpan di rumah penduduk, di rumah saya juga ada," terangnya. 

Dari perilaku pun, Slamet menilai tidak ada yang mencurigakan. "Orangnya memang agak kaku, pendapatnya minta dihormati. Tapi dia dan istrinya aktif, malah seperti ingin jadi pemimpin. Dulu pas ada pembangunan perumahan, dia yang menjembatani dialog antara warga dan pengembang," tambahnya.

Tetangga lain, Muarsan mengaku terakhir bertemu dengan Hari sekitar tiga hari lalu. Hari masih menerima hantaran selamatan awal Ramadhan dari tetangga sekitar. "Selama ini nggak terlihat terima tamu, tapi sering keluar. Selain keluarganya, ada yang saudaranya juga sesekali ke situ," paparnya. 

Hari ini (17/5/2018) dikabarkan akan ada penggeledahan rumah Hari. Namun hingga pukul 15.00 belum tampak petugas yang datang. Rumah Hari sendiri tampak lengang. Lampu teras menyala dan sebuah mobil combi bernopol N 726 BB terparkir.

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : A Yahya
Publisher : Alfin Fauzan
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close