Tentang #

Rabu, 13-06-2018 - 13:00 WIB Ilustrasi (Ist) Ilustrasi (Ist)

JATIMTIMES, MALANG – *dd nana

Familiar dengan simbol # ini. Tentunya saya haqul yakin, kalian sangat-sangat akrab dengan symbol # yang dibaca Tagar atau Hashtags ini. Bagaimana tidak akrab, la wong setiap detik jempol dan mata kita lebih banyak menatap ponsel kita dibandingkan, misalnya menatap kitab. Bagaimana tidak familiar la wong benda yang tidak pernah lepas dari jangkauan tangan yang kerap berfungsi sebagai otak saat ini, tidak pernah absen mengenai symbol # di dunia medsos.

# bahkan telah bermetamorfosis dari sekedar simbol menjadi kekuatan massal. Yang mampu membuat perubahan di dalam dunia nyata sampai membikin banyak orang kebakaran jenggot. Banyak contoh keampuhan simbol # yang dulu, sekitar tahun 1988 hanya digunakan untuk memisahkan kategori gambar, pesan, video dan konten lainnya.

Misal yang masih saja ramai mengenai #2019GantiPresiden. Tagar ini menjadi trending topic di berbagai medsos sampai berpengaruh kuat dalam dunia nyata. Tagar 2019GantiPresiden membuat dua kubu sisa-sisa perebutan kursi presiden tahun 2014 yang begitu eksisnya bertarung di medsos, seperti menemukan lubang untuk membenamkan peluru dan memberondongkannya di mana-mana. Hasilnya # tersebut mewujud dalam kaos, spanduk, wadah makanan untuk berbuka puasa dan meluber kemana-mana dengan semakin banyaknya cericitan para politikus.

Tagar berubah menjadi kekuatan. Menjadi alat efektif untuk mengumpulkan massa dan mendorongnya bersama ke permukaan. Untuk berbagai kepentingan bagi yang pencipta tagar tersebut. Tagar menjadi sosok bermuka dua. “Kayak Brutus tah Cak?” slintut Sukro tiba-tiba. Satu sisi di jempol yang punya hati bisa jadi kebaikan bersama, misal #KoinForSukro yang waktu itu jatuh sakit, hampir sekarat dan tidak terawat rumah sakit, karena tidak memiliki uang, BPJS maupun kartu-kartu sakti lainnya.

Sisi lain jadi ancaman perpecahan untuk sebuah pertarungan memperebutkan kursi. Seperti #2019GantiPresiden tersebut. Bahkan sang pembuat kaos di dunia nyata bernama Teguh Satria Raharja dengan tagar tersebut, sampai merasa hidupnya tidak tenang. Akhirnya memutuskan untuk tidak memproduksinya lagi. 

“Peluang ekonomi dengan kepentingan politik memang susah berdampingan. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan para sumbu pendek. Wajar saja sang pembuat kaos # tersebut merasa hidupnya tidak tenang. Tagar ternyata makhluk yang tidak bisa ditundukkan begitu saja. Betapa liar dan dahsyatnya,” ucap Sukro yang mencicipi kehebatan tagar saat dirinya sakit.

Pemakaian tagar pun tidak ada hak ciptanya, walaupun tentunya segala yang ada awalnya diciptakan oleh seseorang. Sehingga siapapun bisa memakainya dengan kepentingan diri dan kelompoknya. Bebas sebebas-bebasnya. Urusan jadi bikin resah, ramai dan menimbulkan perpecahan itu urusan belakangan. Karena memang itu yang diharapkan.

“Lo jadi sang tagar ini ada yang menciptakannya ya?” tanya Sukro lagi.

Konon, pada tanggal 23 Agustus 2007, Chris Messina seorang advokat spesialis di bidang open source, adalah pencetus ide hashtag atau pound sign atau tanda pagar (tagar) di twitter. Si Chriss ini bukan orang twitter, dia seperti kita yang menggenggam ponsel atau terkait dengan dunia medsos. Dari si Chris inilah simbol # menjadi jalan paling kuat untuk berpartisipasi di media social. Juga jadi alat perang slogan di dunia nyata. Ternyata ide tersebut bersambut gayung. Twitter yang melihat kekuatan dalam simbol # mengadopsinya di tahun 2009. Penggunaan # diadopsi ke dalam kode yang otomatis me-link ke beragam diskusi yang berkembang. Di tahun 2010, twitter semakin melaju dan mengasosiasikannya dengan trending atau trending topics. Di tahun inilah si simbol pagar oleh New York Times (kapan yak Malang Times membuat suatu simbol yang sudah ada seperti revolusinya tagar ini hehehe…) dinyatakan sebagai tahunnya si tagar.

Kembali mengenai #2019GantiPresiden yang membuat berang seorang musisi terkenal yang pernah bergabung dalam band rock Boomerang John Paul Ivan, yang merasa dirinya dipecundangi sang tagar dengan kalimat, “Jhon Paul Ivan Ciptakan #2019GantiPresiden Begitu syahdu dan Meninju,”. Si pencabik gitar ini pun begitu marahnya, dirinya dikait-kaitkan dengan tagar tersebut.

“TOLONG DITINDAK ini accountnya PRIBUMINEWS.CO.ID termasuk yang menyebarkannya, yang sudah bikin pelecehan berita ngawurrrr…Bangsat ini orang, mau minta di bogem mentah mukanya…ayo saya tunggu kamu, jangan jadi BANCI JANCOK Colek @divisihumaspolri @cybercrime.id @kabarkan_org. (dikutip sesuai yang dituliskan Tirto.id dalam berita berjudul Siapa Sebenarnya Pencipta Lagu #2019GantiPresiden”? yang dipublish tanggal 20 Mei 2018).

Dahsyat bukan si # ini. Kedahsyatannya mengenai tagar di atas menurut Tweet Rearch di bulan lalu sudah dilihat sebanyak 114.917 kali. Sedangkan di dunia nyata terus bergulir dan meramaikan berbagai perlehatan Pilkada 2018 dan rasanya akan terus diolah menjadi bagian dalam perlehatan Pilpres 2019.

“Wih segitunya ya si tagar ini. Kalau begitu yuk ramaikan medsos dengan #CariJodohImasTerbaek. Mungkin saja bisa banyak dilihat para nitizen yang seabrek-abrek di Negara ini,” ucap Sukro.

*Penikmat kopi lokal gratisan

Pewarta :
Editor : .
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close