Sempat Taklukkan Malaysia, Kerajaan Singhasari Jadi Bukti Kejayaan Malang di Masa Lalu

Kamis, 14-06-2018 - 13:00 WIB ilustrasi (ramahNUsantara) ilustrasi (ramahNUsantara)

JATIMTIMES, MALANG – Kerajaan Singhasari menjadi salah satu bukti sejarah akan kejayaan Malang di masa lalu. Kerajaan yang diyakini didirikan Ken Angrok pada 1222 ini sampai sekarang masih meninggalkan jejak keemasannya.

Salah satu yang paling dikenal adalah Candi Singhasari yang terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Candi tersebut diperkirakan sebagai pendharmaan raja terakhir Kerajaan Singhasari yaitu Kertanegara.

Berdasarkan catatan sejarah, Kertanegara merupakan satu-satunya raja di Jawa yang memiliki pengaruh besar dalam dunia Internasional di abad ke 13 Masehi. Di masa kepemimpinannya, putera Wisnuwardhana ini disebut-sebut telah menaklukkan nusantara.

"Raja Kertanegara dikenal sebagai seorang raja Singhasari yang terkenal dalam bidang politik maupun keagamaan," tulis Bambang Sumadio dalam Sejarah Nasional Indonesia Edisi Pemutakhiran jilid II yang diterbitkan Balai Pustaka pada 2010.

Dari berbagai sumber sejarah, ia menyebut jika Raja Kertanegara berhasil mengirim ekspedisi untuk menaklukkan Malayu pada 1275 Masehi.

Dengan sederet upaya, Kertanegara diyakini berhasil menaklukkan Pahang, seluruh Malayu, seluruh Gurun, dan seluruh Bakulapura. Termasuk seluruh kerajaan yang ada di Pulau Jawa turut tunduk di bawah kepemimpinan Kertanegara.

Pahang sendiri diyakini sebagai daerah yang terletak di Malaysia. Malayu adalah daerah yang kini dikenal sebagai Sumatera Barat. Sedangkan Gurun merupakan sebutan untuk pulau yang ada di bagian Timur Indonesia, dan Bakulapura atau Tanjungpura menjadi sebutan untuk daerah di bagian barat daya Kalimantan.

Perluasan wilayah yang dilakukan Raja Kertanegara tersebut ternyata didorong atas ancaman dari daratan Cina sejak tahun 1260. Khubilai Khan menjadi tokoh terkenal saat itu dari daratan China di era Dinasti Yuan yang meminta pengakuan dari daerah lain.

Jawa pun tak luput dari monitor Khubilai Khan, tepatnya di tahun 1290 dan 1291. Tak ingin tunduk, Kertanegara mulai memperluas area kekuasaannya hingga ke luar Jawa serta membentuk persahabatan dengan Campa.

Tak berhenti pada upaya perluasan wilayah, Kertanegara juga mengimbangi kekuasaan Khubilai Khan dengan menganut ajaran Budha Tantrayana. 

Di tahun 1289 M, Khubilai Khan mengutus seorang prajurit untuk mendapat pengakuan dari Kerajaan Singjasari. Namun Kertanegara menolak mentah-mentah dan melukai prajurit suruhan Khubilai Khan.

Alhasil, penguasa daratan Cina itu marah besar dan kembali mengirim pasukan kuatnya ke Jawa pada 1292 M. Tiga pasukan elitnya yaitu Ship-pi, Ike Mese, dan Kau Hsing dikirim untuk menkalukkan Pulau Jawa.

Namun keruntugan Singhasari saat itu bukanlah di tangan Khubilai Khan. Melainkan oleh keturunan raja Kertajaya dari Kediri yang dulunya ditaklukkan oleh buyut Raja Kertanegara.

Saat itu, Kediri bukan menjadi kerajaan yang dihancurkan, tapi menjadi daerah yang dipimpin keturunan Kertajaya dan mengakui kebberadaan Kerajaan Singhasari.

Sebelum dikuasai Kertanegara, Singhasari menjadi kerajaan besar yang berkembang dan dipimpin oleh raja yang berbeda.

Pasca meninggalnya Ken Angrok, Singhasari diyakini dipimpin Anusopati yang merupakan anak dari Ken Dedes (isteri Ken Angrok) dengan suami pertamanya yaitu Tunggul Ametung sebagai penguasa Tumapel (salah satu daerah kekuasaan Kerajaan Kediri) sebagai cikal bakal Kerajaan Singhasari.

Ken Angrok sendiri dikatakan mati di tangan Anusopati karena kabar kematian ayah kandungnya yaitu Tunggul Ametung oleh Ken Angrok sampai ke telinganya. 

Tak lama, putera Ken Angrok dan Ken Umang yaitu Panji Tohjaya mendengar kabar kematian Ken Angrok dan menuntut balas. Anusopati didharmakan di Candi Kidal yang terletak di Desa Kidal Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang.

Sementara itu, Tohjaya sendiri dikatakan meninggal dalam sebuah peperangan dan terkena busur panah dan dicandikan di Katanglumbang (1248 M). Setelah itu, putera dari Anusopati yaitu Wusnuwardhana disebut memimpin Singhasari sejak 1248.

Wusnuwardhana sendiri merupakan ayah dari Raja Kertanegara dan didharmakan di Candi Jajaghu, kini terletak di Desa Jago Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang.

Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close