Peci Hitam dan Identitas Bangsa Indonesia

Jum'at, 15-06-2018 - 11:00 WIB ilustrasi peci (DISINIAJA.NET) ilustrasi peci (DISINIAJA.NET)

JATIMTIMES, MALANG – Indonesia kaya akan suku dan budaya. Dari sabang sampai merauke tentu mengenal adat serta kebiasaan yang berbeda. Namun meski begitu, ada satu identitas yang selama ini menjadi sebuah perwakilan bagi para pria Indonesia.

Apalagi jika bukan peci hitam. Peci atau yang kadang dikenal sebagai kopiah dan songkok ini memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan bagi laki-laki Indonesia. Meskipun setiap daerah tentunya mengenal penutup kepala yang berbeda. Tapi peci hitam ini pada akhirnya mampu mempersatukan isi kepala dari semua kalangan.

Tukang sate sampai presiden sampai saat ini masih gemar mengenakan penutup kepala berwarna hitam itu. Dalam acara kenegaraan, presiden lebih sering mengenakannya.

Jika ditelisik lebih mendalam, pemakaian peci hitam bukanlah sekedar aksesoris untuk mempercantik penampilan. Di balik itu ternyata tersimpan makna mendalam hingga akhirnya mampu tertancap hingga sekarang.

"Peci itu wujud perlawanan dari kaum nasionalis untuk melawan kolonialisme," terang sejarawan dan akademisi Universitas Negeri Malang, Abdul Latief Bustami pada MalangTIMES.

Meski peci sudah dikenal jauh sebelum kolonialisme tumbuh subur di Indonesia, namun pada akhirnya penutup kepala berwarna hitam itu menurutnya berhasil menyatukan Indonesia menjadi negara yang merdeka.

"Dari simbol peci saja sudah dijelaskan jika konsep bangsa kita adalah demokrasi bukan monarki," imbuhnya.

Lebih jauh dia menjelaskan jika peci mulanya memang kental dengan ajaran Islam, dan besar kemungkinan jika peci merupakan pengaruh dari Turki. Namun sejak dipopulerkan Soekarno, peci menjadi identitas bangsa dan tak lagi dikaitkan dengan agama tertentu.

"Peci tak mengenal Islam, Kristen, Hindu, ataupun Budha," papar Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda Indonesia Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia itu.

Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : A Yahya
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close