Topeng Malangan Sah Jadi Warisan Budaya Takbenda Kabupaten Malang

Jum'at, 15-06-2018 - 15:00 WIB ilustrasi topeng malangan (Good News from Indonesia) ilustrasi topeng malangan (Good News from Indonesia)

JATIMTIMES, MALANG – Topeng Malangan sah menjadi warisan budaya takbenda milik Kabupaten Malang. Hal itu sesuai dengan keputusan yang dikeluarkan Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia sejak 2013 lalu.

Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda Indonesia Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, Abdul Latief Bustami menyampaikan jika Topeng Malangan menjadi salah satu warisan tak benda yang sudah dipatenkan oleh Kabupaten Malang.

Hal itu sesuai dengan yang sudah diajukan Pemerintah Kabupaten Malang melalui Provinsi Jawa Timur pada 2013 silam. Secara hak, maka Topeng Malangan menjadi warisan milik Kabupaten Malang.

"Jadi itu masih salah satu warisan budaya takbenda di Malang yang sudah dipatenkan," kata Latief.

Pria yang juga Dosen Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (UM) itu menambahkan, Malang Raya memiliki segudang warisan budaya yang dapat diajukan sebagai warisan budaya tak benda. 

Diantaranya seperti bahasa walikan dan atraksi serta festival yang memang sudah ada sejak puluhan atau ratusan tahun yang lalu. Namun sayangnya saat ini memang belum ada satu pun yang diajukan untuk segera dijadikan warisan budaya tak benda di Malang.

Pentingnya pengajuan tersebut menurut Latief dikarenakan warisan budaya tak benda sangat mudah di bawa ke luar negeri. Sementara ketika warisan itu diakui oleh negara lain, masyarakat Indonesia cenderung kebakaran jenggot.

"Kalau warisan budaya gampang dibawa lari ke luar negeri, beda sama Candi Borobudur, bagaimana kalau mau bawa lari candi segitu besar," tambahnya.

Berkaca pada pengalaman sebelumnya, potensi diakuinya warisan budaya Indonesia sangat besar. Ia pun mencontohkan kasus reog ponorogo yang ramai dikatakan dikalim oleh Malaysia beberapa tahun lalu.

Dia menyampaikan, kasus tersebut sebuah kesalahpahaman. Karena klaim tersebut pada dasarnya dilakukan keturunan Ponorogo yang hijrah ke negeri jiran. Sebuah budaya yang sudah melekat sudah jelas akan di bawa kemana pun orang itu pergi.

Sehingga tak heran jika Reog Ponorogo saat itu diajukan sebagai warisan budaya keturunan Indonesia yang ada di Malaysia. Hal itu mengingatkan jika kebudayaan mudah di bawa siapapun, kepanpun, dan ke manapun.

"Itulah pentingnya untuk dijadikan sebagai warisan budaya tak benda," jelasnya lagi.

Secara skala nasional, pengajuan warisan budaya takbenda di Jawa Timur menurutnya masuk dalam kategori bagus. Karena sudah ada puluhan warisan budaya yang diajukan dan telah dipatenkan.

"Jika dulu timiahli yang mengajukan untuk dipatenkan, maka sekarang yang aktif adalah masyarakat dan pemerintah daerah. Karena mereka sudah mengetahui itu," jelas pria kelahiran Sumenep, Madura ini.

Untuk dapat menjadikan sebagai warisan budaya tak benda, setidaknya diperlukan beberapa syarat. Diantaranya sudah menginjak satu generasi atau berusia minimal 50 tahun dan banyak dibukukan ataupun sebagai bahan penelitian.

"Ini yang kadang susah, budaya kita lisan bukan budaya menulis. Tulisan penting sebagai bukti untuk kita dapat klaim sebagai warisan budaya tak benda kita," pungkasnya.

Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close