Penjaga Pasar di Kabupaten Probolinggo Ditemukan Tewas

Rabu, 11-07-2018 - 19:28 WIB Jasad Korban Hartono terjepit (Agus Salam/Jatim TIMES) Jasad Korban Hartono terjepit (Agus Salam/Jatim TIMES)

JATIMTIMES, PROBOLINGGO – Penjaga Pasar Bayeman Kabupaten Probolinggo, ditemukan tak bernyawa di depan sebuah gudan toko di dalam pasar, Rabu (11/7) sekitar pukul pukul 05.30.

Diketahui, korban meninggal bernama Hartono (50) warga Dusun Kulak, RT 5 RW 1, Desa Wringin Anom, Kecamatan Tongas, Kabupaten Malang dalam kondisi kaku.

Belum diketahui pasti penyebabnya, apakah pria yang menjadi penjaga malam (Waker) pasar Bayeman, meninggal karena sakit atau korban pembunuhan.

Kasat Reskrim Probolinggo Kota AKP Nanang Fendi, yang ada di lokasi kejadian, belum bisa menyimpulkan. Mengingat, peristiwa meninggalnya Hartono, masih didalami dan menunggu hasil otopsi Rumah Sakit Tongas.

Dijelaskan, Bapak beranak satu itu diketahui meninggal setelah masyarakat melapor ke Polsek Tongas. Saat itu juga sejumlah petugas datang ke pasar untuk melokalisir dan mengamankan lokasi kejadian.

Tim identifikasi polresta juga didatangkan dan melakukan oleh TKP di dia tempat. Yakni di tempat ditemukannya jasad beserta di lokasi tempat tidur kortban yang jaraknya berdekatan.

Kasat menyebut, belum diketahui hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Hasil sementara, di tubuh kerban tidak ditemui luka lebam, bahkan ceceran darahpun, tak ditemukan.

Meski begitu, pihaknya belum bisa menyimpulkan, kalau Hartono meninggal karena sakit. Sebab, masih perlu dilakukan penyelidikan lebnih lanjut. “Untuk sementara ini, tanda-tanda kekerasan belum ditemukan. Yang menentukan nanti, pihak rumah sakit,” tandasnya usai olah TKP.

Kasat yang baru satu bulan dinas di Polresta menggantikan AKP Pujiono ini kemudian mengatakan, kalau gudang toko sisi barat tempat korban ditemukan, terbuka.

Lebarnya, diperkirakan tidak lebih dari 50 meter. Seseorang bisa keluar masuk melalui lubang itu, posisi miring. Toko yang difungsikan gudang tersebut ditutup papan kayu (Sirap) dan dua sirapnya, terbuka. “Belum tahu siapa yang membuka,” tambahnya.

Selain itu, di dekat jasad korban ditemukan satu sak gula pasir seberat 50 Kg. Gula yang dibungkus karung plastik putih tersebu, milik orang tua Soliha (30) pemilik gudang.

"Masih misteri, mengapa gula yang awalnya di dalam gudang, pindah ke luar gudang. Sedang barang lain di dalam gudang, tidak ada yang hilang. Belum tahu mengapa gula itu ada di luar. Butuh penyelidikan mendalam,” pungkasnya.

Sementara itu, salah seorang pria yang mengaku tetangga dan sahabat korban mengaku, sekitar pukul 01.00 menemui korban di pasar.

Dini hari itu, ia sempat berbincang dengan korban namun tidak lama, sekitar 10 menit. Pria yang pagi itu datang ke pasar bersama keponakan korban, untuk melihat korban Hartono.

“Saya sebentar, karena mau nonton piala dunia. Saat aku datang, korban keliling pasar. Enggak tahu, biasanya tidak pernah keliling,” ucapnya di dampingi keponakan korban.

Soliha (30) putri pemilik gudang membenarkan, kalau gula di dekat jasad korban, adalah milik orang tuanya. Ia juga tidak menetahui, mengapa gula tersebut ada di luar. Dan lagi anehnya, barang-barang di dalam gudang posisinya tidak berantakan. Disebutkan, gudang itu awalnya toko, lalu  ditutup dengan alasan menempati toko atau bedag di pinggir jalan raya.

 “Ini tempat barang. Toko kami di depan sana. Enggak, saya kesini bukan mau buka toko. Tapi untuk melihat gudang. Karena saya mendengar waker pasar meninggal di depan gudang orang tua saya,” katanya singkat.

Hasil pantauan, jasad korban tidak kelihatan (Samar) baik dari sisi utara, selatan dan timur. Selain tertutup sarung, di sisi timur terhalang dipan bambu yang dimiringkan, beguitu juga dari sisi utara dan selatan, terhalang dipan kecil yang diletakkan dalam posisi berediri.

Sedang jasad korban terjepit disela-sela tumpukan barang milik orang tua Holila dengan dipan bambu. Sementara Sepeda moronya diparkir di dekat dipan yang  biasa dipakai tudur korban, utara gudang.

Adapun barang bukti yang diamankan polisi diantaranya, satu unit sepeda motor bernopol N 5904 TA, sepasang sandal jepit merah, sentolop atau senter, sebilah parang alias beddung bahasa maduranya, rokok beserta koreknya, songkok atau peci hitam dan jaket     

Pewarta : Agus Salam
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Probolinggo TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close