Curhat Ibu Pembunuh Anak Kandungnya Sendiri dari Pagak

Kamis, 12-07-2018 - 17:09 WIB Ani merasakan penyesalan mendalam atas emosi yang dipicu oleh lingkungannya bertahun-tahun dan dilampiaskan kepada anaknya (dok MalangTIMES) Ani merasakan penyesalan mendalam atas emosi yang dipicu oleh lingkungannya bertahun-tahun dan dilampiaskan kepada anaknya (dok MalangTIMES)

JATIMTIMES, MALANG – Masih ingat dengan kisah tragis yang menimpa bocah usia 8 tahun bernama Syaiful Anwar yang akhirnya meninggal dunia. Pemicunya dikarenakan dianiaya oleh Ani Musrifa (40) warga Dusun Tempur RT 02 RW 11 Desa Pagak,  Kecamatan Pagak,  yang tak lain merupakan ibu kandung korban sendiri. 

(baca : Ibu Kandung yang Pukuli Anaknya Sampai Tewas Terancam 20 Tahun Penjara 21/6/2018 dan Bocah Tewas di Tangan Ibu Kandungnya Ternyata Alami Perdarahan di Kepala dan Otak, 22-06-2018). 

Dari beberapa kali pemeriksaan oleh kepolisian,  Ani tidak pernah menjelaskan motif sesungguhnya melakukan perbuatan yang menyebabkan anaknya mengalami perdarahan otak dan kepalanya. Perempuan asal Lamongan ini hanya mengatakan dirinya jengkel karena anaknya mengambil uang miliknya sebanyak Rp 51 ribu. 

Setelah hampir satu bulan, Ani akhirnya berkenan bercerita mengenai kabut gelap yang menyebabkan dirinya melakukan perbuatan keji terhadap anaknya sendiri. Walaupun masih terlihat jelas raut sedih yang mendalam,  tapi Ani sudah mampu tersenyum tipis. 

"Fisik saya sehat selama di sini. Tapi hati saya tidak," ujar Anik lirih,  saat berada di ruang Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang. Air mata penyesalan luruh seketika dalam sesengguk yang dalam. Kepalanya menunduk sebelum menceritakan penyebab perbuatannya yang membuat anaknya meninggal dunia. 

Penyesalan mendalam atas emosinya yang tidak terbendung dan dilampiaskan kepada tubuh anaknya yang berusia 8 tahun. Terlihat jelas di mata dan raut wajah Ani. Suaranya bergetar ditingkahi tangisan saat mengenang sang anaknya yang kini telah kembali ke pangkuan Tuhan. 

"Dia anak yang baik dan tidak neko-neko. Bahkan dalam soal makanan pun tidak pernah rewel. Saya ingat kesukaannya yaitu mie dan telur," ucap Ani sambil membayangkan saat anaknya masih hidup. Saat dirinya mengantarnya ke sekolah maupun mengaji. 

"Dia suka mengaji dan selalu semangat. Bahkan sudah tiga kali khatam. Anaknya baik, baik sekali," kenang Ani dengan berurai air mata. 

Bayangan-bayangan atas anaknya itu yang kini kerap hadir. Saat Ani menjalani rangkaian penyidikan dan mendekam di terali besi Mapolres Malang. Bayangan yang menurutnya menyiksa hati dengan penyesalan terdalam. 

"Saat ingat itu hancur hati saya. Tidur tidak bisa,  saya lari mendekatkan diri ke Ilahi. Salat dan menggaji untuk meringankan beban dosa ini," ujarnya. 

Disinggung faktor yang membuat Ani gelap mata dan melakukan penganiayaan sampai menyebabkan anaknya meninggal,  perempuan asal Lamongan ini bercerita. Cerita tentang bagaimana perlakuan lingkungan sekitarnya terhadap dirinya selama bertahun-tahun. 

Ani mengatakan,  dirinya tidak marah kepada anaknya atas perbuatan mengambil uangnya sebesar Rp 51 ribu. Bahkan,  secara tegas perempuan bertubuh bongsor ini menyampaikan anaknya tidak bersalah. 

"Entah apa yang merasuk ke saya,  saat itu. Seluruh tekanan sosial dari lingkungan selama tiga tahun lebih yang saya pendam,  keluar," ucapnya lirih sambil mengatakan ulang perbuatannya terhadap Syaiful,  bukan karena rasa marah dan bencinya. "Saya marah terhadap lingkungan sekitar. Saya selalu diperlakukan tidak adil. Anak saya baik,  baik, " imbuhnya. 

Ketidakadilan dalam kehidulan sosial yang didera Ani selama bertahun-tahun,  menurutnya yang menjadi penyebab. Ani dengan mata gelap mempersonifikasikan tubuh anaknya dengan lingkungan sosial yang membuat hatinya menderita. 

Perasaan dikucilkan dalam pergaulan sehari-hari oleh tetangganya yang sebenarnya saudara ipar. Sampai pada pola komunikasi yang tidak berjalan,  menjadikan hati Ani sakit dan menderita.  

"Saya di sana ada tapi dianggap tidak ada. Kalau tanya apa saja dijawabnya dengan nada tinggi. Saya salah, tidak pernah diingatkan baik-baik. Tapi malah dikeroyok ramai-ramai dan menyalahkan saya," kenang Ani. 

Perlakuan tidak adil ini juga,  kata Ani,  menimpa anaknya yang akhirnya menjadi pelampiasannya tanpa sadar. Ani mencontohkan,  saudaranya yang juga memiliki anak seumuran almarhum kalau berangkat ngaji tidak pernah mau bareng dengan anaknya. "Selalu ditinggal,  padahal sudah janjian. Pun dalam setiap acara keluarga,  saya selalu ditinggal," isaknya.

Nasi telah jadi bubur. Syaiful,  bocah berusia 8 tahun dan menyukai baca alquran itu telah tiada. Dan Ani harus menyesali dirinya telah melakukan perbuatan yang  menyebabkan anaknya meninggal. Perbuatan yang akan menyebabkan hidupnya berada di terali besi selama 20 tahun. 

Pewarta : Dede Nana
Editor : A Yahya
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close