Kasus Meninggalnya Penjaga Pasar Bayeman, Tak Bisa Diproses

Kamis, 12-07-2018 - 22:47 WIB Posisi Jasad hartono saat ditemukan di dalam pasar Bayeman (Agus Salam/Jatim TIMES) Posisi Jasad hartono saat ditemukan di dalam pasar Bayeman (Agus Salam/Jatim TIMES)

JATIMTIMES, PROBOLINGGO – Sepertinya, penanganan kasus meninggalnya Hartono (50) penjaga malam (Waker) Pasar Bayeman, Kabupaten Probolinggo, tidak dilanjut. Sebab, hasil penyelidikan dan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan hasil autopsi RSUD Tongas, di tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan

Dengan dasar itulah, Polres Probolinggo Kota menduga, Hartono meninggal wajar. Apalagi, pria yang tinggal di Dusun Kulak, RT 5 RW 1, Desa Wringin Anom, Kecamatan Tongas itu memiliki riwayat jantung. Karenanya, polresta menduga yang bersangkutan meninggal karena serangan jantung, bukan dianiaya atau dibunuh seseorang.

Informasi tersebut didapat dari Kapolreta AKBP Alfian Nurrizal, Kamis (12/7) siang di RSUD dr Muhammad Saleh, usai mengantar istri Agus Purnomo terduga teroris yang hendak melahirkan. Kapolresta menjelaskan, di tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Karenanya, ia menduga, Hartono meninggal bukan karena dibunuh atau dianiaya. “Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan,” ujarnya ke sejumlah wartawan.

Hanya saja, kapolresta tidak menjelaskan, apakah kasusnya penemuan mayat di dalam pasar Bayeman, dihentikan atau dilanjut.  Ditambahkan, korban memiliki riwayat sakit jantung. Dengan demikian, Hartono diduga meninggal akibat serangan jantun. “Korban punya riwayat jantung. Mungkin malam itu, kambuh,” tandas kapolresta yang diamini Kasat Intel IPTU Sudarto.

Saat ditanya, apakah ada keterkaitan meninggalnya Hartono dengan gudang toko yang terbuka serta gula pasir milik orang tua Holipa yang berada di luar gudang, dekat jasad korban ? Alfian mengatakan, masih akan berkoordinasi dengan Sat Reskrim. “Makanya kami belum mendapat laporan secara rinci kasus ini.Kami akan berkoordinasi dengan Satreskrim,” tandasnya.

Terpisah, Kasat Reskrim AKP Nanang membenarkan, kalau tidak ada tanda tanda kekerasan di tubuh korban. Karenanya, meninggalnya Hartono, tidak bisa diproses lebih lanjut. Hal tersebut berdasarkan olah TKP dan autopsi bagian luar  yang dilakukan RSU Tongas. “Ya, kalau kondisinya seperti itu, tidak bisa diproses. Mau dilanjut gimana, la wong tidak ada kekerasan,” sebutnya.

Terkait gula pasir seberat 50 Kg dan terbukanya bedak, Kasat Reskrim yang belum dua bulan menjabat ini mengatakan, tidak ada keterkaitan dengan korban. Hasil keterangan yang didapat dari pemilik gudang, pintu masuk gudang tidak ada yang rusak, begitu juga dengan kondisi di dalam gudang, berang-barangnya tidak berantakan. “Pemilik toko belum tahu siapa yang mengeluarkan gulanya,” imbuhnya.  

Tentang  pintu sebelah timur yang terbuka, Kasat menjelaskan, memang kondisinya seperti itu selalu terbuka. Menganai jasad korban yang terjepit diantara tumpukan barang dan dipan bambu ? Nanang menjelaskan, yang menata dipan sehingga jasad Nanang tidak kelihatan dari luar adalah pemilik toko. “Untuk mengetahui siapa yang mengeluarkan gula, butuh saksi. Sedang saksinya, tidak ada,” pungkasnya.

Pewarta : Agus Salam
Editor : A Yahya
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Probolinggo TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close