Hati-Hati, Kementerian Perdagangan Amankan 29.113 Batang Besi Asli Tapi Palsu di Kota Malang

Kamis, 04-10-2018 - 14:49 WIB Sekitar 29 ribu batang besi tulang beton yang tidak sesuai standar yang dijual di salah satu toko di Kota Malang diamankan dan disegel oleh Kementerian Perdagangan. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES) Sekitar 29 ribu batang besi tulang beton yang tidak sesuai standar yang dijual di salah satu toko di Kota Malang diamankan dan disegel oleh Kementerian Perdagangan. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

JATIMTIMES, MALANG – Masyarakat di Malang Raya harus waspada saat membeli bahan bangunan, terutama besi. Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan (Kemendag) menemukan puluhan ribu batang besi baja asli tapi palsu (aspal) di Toko Panca Ragam Baru, Kota Malang.

Hari ini (4/10/2018) tim dari Kemendag didampingi jajaran UPT Perlindungan Konsumen Jawa Timur dan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melakukan inspeksi mendadak (sidak) di toko bahan bangunan yang berlokasi di jalan Kyai Tamin No 27, Sukoharjo, Klojen, Kota Malang itu. Hasilnya, mengamankan sebanyak 29.113 batang besi tulang beton yang tidak sesuai standar. 

Selama ini, komoditas bahan bagunan itu dijual bebas meskipun tidak memenuhi standar nasional Indonesia (SNI). Terkait temuan tersebut, Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kemendag melakukan penyegelan terhadap besi-besi tulang beton aspal yang kerap disebut besi banci itu.

Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kemedag Veri Anggrijono mengatakan, besi-besi tidak sesuai ukuran tersebut ditemukan saat pihaknya melakukan pengawasan secara berkala terhadap produk-produk yang telah dikenakan wajib SNI. Salah satunya, besi baja tulang beton. "Ini kami dapati bagian tulang beton ini ukurannya harusnya 12 inch, tapi yang dijual itu 11,2 inch," ujarnya usai melakukan sidak.

Peredaran besi aspal itu mengkhawatirkan dan sangat merugikan masyarakat. Terlebih berdasarkan pengukuran yang dilakukan, besi-besi banci yang dijual sudah di luar batas toleransi. "Toleransinya maksimal selisih 0,4 inch. Itu membahayakan kalau dipakai di bangunan, katakanlah suatu bangunan butuh baja 12 inch, ternyata ukurannya di bawahnya," urainya. 

"Kami mengantisipasi kejadian-kejadian misal ada gempa, ini kan gampang ambruk. Ini yang kami awasi," tambahnya. Dia menjelaskan, pihaknya secara berkala melakukan pengawasan dalam rangka perlindungan terhadap konsumen. Sidak ini pun dilakukan untuk memberikan pembelajaran dan efek jera kepada pelaku. 

Pihak Kemendag juga tidak akan berhenti sampai pada penindakan di tingkat pengecer. Hasil temuan di Kota Malang akan dikembangkan hingga tingkat yang lebih luas. "Kami akan telusuri darimana distributornya, atau siapa importirnya, kami akan segera berikan sanksi untuk melakukan penarikan barang. Dalam waktu seminggu usahakan bisa selesai," tegasnya.

Sementara itu, Asisten II Bidang Perekonomian Pemkot Malang Diah Ayu Kusuma Dewi menyampaikan, pada saat sidak ini ditemukan ketidaksesuaian ukuran besi yang dijual. "Besi yang dijual itu kan ada ukuran yang bisa diterima. Ternyata ditemukan oleh petugas pengawas, ukuran besi yang ada diluar toleransi batas yang bisa ditoleransi," terangnya.

Diah merinci beberapa besi yang ditemukan tidak sesuai ukuran. Di antaranya, besi yang seharusnya berdiameter 12 inch ternyata hanya berukuran 11,2 inch. Selanjutnya juga ada besi yang seharusnya berukuran diameter 10 inch, ternyata yang dijual berukuran 8,3 inch. "Ada juga yang seharusnya 10 inch, dijual 9,5 inch," lanjutnya. 

Tak hanya peringatan, Diah menegaskan bakal ada sanksi tersendiri bagi pelaku. Yakni sesuai dengan UU Perlindungan Konsumen pasal 8 ayat 1 huruf a, terkait standardisasi produk. Pelaku bisa terkena pidana dengan ancaman kurungan 5 tahun penjara serta denda Rp 2 miliar. "Sanksi untuk distributor, produsen, atau importir," kata dia. 

Sementara untuk toko yang menjual, lanjutnya, hanya diberikan peringatan agar tidak melakukan penjualan barang seperti ini. Saat ini, ribuan besi tersebut sudah disegel dengan pita pengaman kementerian berwarna kuning. Toko dilarang untuk menjual besi tulang beton banci itu.

 

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : A Yahya
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close