Isu Gempa dan Tsunami, Objek Wisata Pantai Sepi Pengunjung

Jum'at, 12-10-2018 - 06:42 WIB Pantai Bangsong Teluk Asmara (BTS) sepi dikunjungi wisatawan sejak pertengahan Agustus. (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES) Pantai Bangsong Teluk Asmara (BTS) sepi dikunjungi wisatawan sejak pertengahan Agustus. (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

JATIMTIMES, MALANG – Musibah gempa dan tsunami yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia ternyata juga berdampak di Kabupaten Malang. Objek wisata pantai yang biasanya dipadati pengunjung belakangan ini menjadi sepi. Wisatawan tampaknya khawatir dan memilih menghabiskan waktu liburan ke objek wisata selain pantai.

Koordinator wisata Pantai Bangsong Teluk Asmara (BTA) Hariyanto menuturkan, isu tsunami memang berdampak pada berkurangnya jumlah wisatawan. Akibatnya, pantai yang berlokasi di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), itu jadi sepi dikunjungi wisatawan. “Sejak pertengahan Agustus lalu, jumlah wisatawan semakin berkurang,” terang dia kepada MalangTIMES.

Hariyanto menambahkan, jika dirata-rata, pada hari biasa (Senin-Jumat), hanya ada sekitar 80 tiket yang terjual. Sedangkan di akhir pekan (Sabtu dan Minggu), hanya sekitar 500 wisatawan yang berlibur. “Diperkirakan berkurangnya jumlah pengunjung akibat isu tsunami mencapai sekitar 70 persen,” imbuhnya.

Sebelum adanya musibah gempa dan tsunami, Pantai BTA selalu dipadati wisatawan. Pada hari-hari biasa (Senin-Jumat), sedikitnya berkisar antara 200 hingga 300 pengunjung yang berwisata ke pantai yang dikenal dengan julukan Rqja Ampat-nya Malang tersebut. Sedangkan di akhir pekan, pengunjung bisa membeludak hingga 1.500 tiket yang terjual.  

 

 

“Objek wisata pantai yang sepi ini tidak hanya terjadi di BTA. Hampir semua pantai yang ada di Kabupaten Malang mengalami hal yang sama,” ucap Hariyanto.

Hal senada juga dikeluhkan oleh penyedia jasa foto di pantai yang diresmikan sekitar bulan Mei 2017 tersebut, yakni Rahmat Widodo. Dia mengatakan, sebelum adanya bencana gempa dan tsunami, penyedia jasa foto bisa menggaet sedikitnya 50 wisatawan. Nyatanya, sejak dua bulan belakangan, pria 23 tahun ini hanya mendapat pelanggan 10 orang saja. “Sepi Mas. Apalagi bulan Agustus lalu banyak kirab dan karnaval. Mungkin pengunjung lebih memilih melihat itu (kirab dan karnaval) daripada ke pantai,” keluh Rahmat.

Salah satu pengunjung Pantai BTA, Riyan Ardiansyah, warga Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, mengaku mengetahui jika belakangan banyak terjadi bencana gempa dan tsunami. Namun, pria 29 tahun ini tampaknya tidak terlalu mempersoalkan hal itu. “Kan belum ada imbauan dari pemerintah jika di Kabupaten Malang bakal terjadi tsunami. Jadi, saya tetap main ke sini (Pantai BTA),” kata bapak satu anak ini.

Sementara, pengelola Pantai Gua China Wasito tampaknya juga mengeluhkan hal yang sama. Semenjak maraknya bencana, pantai yang berlokasi di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), tersebut juga mengalami kemerosotan jumlah pengunjung. “Sepi Mas. Hari biasa (Senin-Jumat) hanya 100 tiket terjual. Sedangkan akhir pekan hanya ada 500-an pengunjung. Padahal sebelumnya ada ribuan pengunjung yang berlibur setiap minggunya,” ucapnya. (*)

Pewarta : Ashaq Lupito
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close