Eksepsi Terdakwa Kasus Investasi Bodong Ditolak Majelis Hakim

Jum'at, 12-10-2018 - 09:09 WIB Suasana sidang penolakan eksepsi kasus penipuan investasi bodong di pengadilan negeri Kota Kediri.(eko Arif s /JatimTIMES) Suasana sidang penolakan eksepsi kasus penipuan investasi bodong di pengadilan negeri Kota Kediri.(eko Arif s /JatimTIMES)

JATIMTIMES, KEDIRI – Eksepsi terdakwa kasus penipuan berkedok investasi bodong PT Brent Scurities dan PT Brent Ventura Jakarta Suratna Gondo Prawiro akhirnya ditolak oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Kota Kediri. Penolakan tersebut dibacakan hakim dalam sidang dengan agenda putusan sela (11/10/18).

Eksepsi terdakwa dibacakan oleh kuasa hukumnya Iksan Suprastian SH pada sidang sebelumnya dan ditanggapi oleh jaksa penuntut umum (JPU). Materi eksepsi tentang dakwaan sumir dan kasus tersebut dinilai dalam ranah perdata bukan pidana. Pasalnya, terdakwa sudah berupaya menyelesaikan melalui penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU).

"Klien kami sudah berupaya menyelesaikan masalah ini melalui PKPU. Pak Yandi (sebutan terdakwa) telah membayar melalui keputusan PKPU. Bahkan, sebelumnya juga sudah ada pembayaran kepada nasabah," kata Iksan Suprastian, kuasa hukum terdakwa.

Pembayaran tanggungan kepada nasabah tersebut, imbuh Iksan menjadi terhenti karena terdakwa kini mendekam di sel tahanan. "Bagaimana Pak Yandi bisa membayar, sekarang orangnya ada di dalam tahanan," imbuh pengacara dari lembaga advokat Elza Syarif ini.

Untuk diketahui, melalui PKPU, PT Brent Scurities berusaha mengembalikan uang para nasabah yang telah diinvestasikan. Melalui PKPU ini dilakukan rescedul pelunasan utang dalam jangka waktu lima tahun. Sementara hingga kini sudah berjalan kurang lebih dua tahun sejak ada keputusan dari Pengadilan Tata Niaga.

Terpisah, Budi Darma, salah satu korban penipuan investasi bodong ini menyambut baik putusan sela. Menurut dia, penolakan eksepsi yang diajukan terdakwa oleh majelis hakim adalah tepat. Sehingga, hal ini membuktikan bahwa terdakwa melakukan tindak pidana sebagaimana laporan korban.

Bahkan, kata Budi Darma, tedakwa tidak hanya melakukan penipuan dengan memberikan cek kosong kepada Hartono dan beberapa korban lain, melainkan juga diindikasi melakukan pencucian uang atau pidana money laundry milik para korban.

"Indikasi tindak kejahatan money laundry yang dilakukan terdakwa kini telah kami laporkan ke Polres Kediri Kota. Ada 35 orang nasabah yang menjadi korban kasus ini. Dimana, berdasarkan data kami saat laporan di kepolisian untuk Kota Kediri ada 23 orang pelapor," beber Budi Darma yang juga seorang pengusaha susu ini.

Pasca putusan sela dibacakan, hakim ketua kemudian menyampaikan agenda sidang berikut nya yaitu, pemeriksaan saksi-saksi. Hakim meminta agar JPU menghadirkan para saksi untuk diperiksa secara maraton, mengingat masa penahanan terdakwa akan segera berakhir.

Pesan sama disampaikan kepada kuasa hukum terdakwa. "Bila ada saksi yang meringankan, segera dihubungi dan dihadirkan ke persidangan untuk kami periksa. Jika perlu persidangan, kami laksanakan setiap hari untuk mempercepat," kata majelis.

Diberitakan sebelumnya, 35 orang warga Kediri menjadi korban penipuan investasi bodong di PT Brent Scurities dan PT Brent Ventura Jakarta. Mereka menanamkan investasi uang mulai angka Rp 500 juta hingga Rp 7 miliar karena iming-iming bunga sebesar 10,5 persen per bulan, pada 2014 lalu. Akan tetapi dalam pembayaran bulan keempat, perusahaan menyatakan gagal bayar.

Selain 35 warga Kediri, total korban investasi bodong keseluruhan mencapai 859 orang di seluruh Indonesia. Adapun nilai kerugian hamper Rp 1 triliun. Diantara uang yang diinvestasikan tersebut, sebagian ada yang berasal lembaga keagamaan dan yayasan. Sehingga para korban berharap aparat penegak hukum menelusuri aset – aset milik perusahaan itu sehingga bisa dikembalikan kepada para korban. (*)

Pewarta : Eko Arif Setiono
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Kediri TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close