Mengejutkan! Permukaan Tanah Malang Raya Turun Hingga 3 Meter, Apa Penyebabnya?

Jum'at, 12-10-2018 - 16:23 WIB Perubahan vertikal permukaan tanah di Malang Raya dan sekitarnya. (foto: Grup Riset Bioinformatika FILKOM UB) Perubahan vertikal permukaan tanah di Malang Raya dan sekitarnya. (foto: Grup Riset Bioinformatika FILKOM UB)

JATIMTIMES, MALANG – Sudah seharusnya masyarakat Malang Raya mengetahui kondisi alam di sekitarnya. Apalagi di tengah datangnya bencana yang bertubi-tubi di Indonesia. Sudah sepatutnya kita mengenal lingkungan sekitar. Hal ini dilakukan dalam rangka mitigasi bencana. Mitigasi bencana adalah upaya antisipasi untuk menekan kerugian materiil dan nonmateriil. Jadi, sangat penting untuk dilakukan.

Nah, bagaimana sebenarnya kondisi alam di Malang Raya ini? Grup Riset Geoinformatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (FILKOM UB) melakukan analisis dari data satelit radar (Sentinel-1) milik Uni Eropa.

Fatwa Ramdani, D.Sc., S.Si., M.Sc. selaku ketua grup mengungkapkan bahwa data yang dikumpulkan adalah data dalam periode tiga tahun terakhir, yaitu sejak tahun 2015 hingga tahun 2018. Hasilnya sangat mengejutkan, wilayah Malang Raya mengalami penurunan muka tanah setinggi tiga meter.

"Surabaya itu hanya naik 30 centimeter. Kemudian Malang Raya itu justru ada penurunan sampai 3 meter. Ini kan mengejutkan," terang Fatwa.

Padahal, hipotesis awal Fatwa adalah wilayah Surabaya yang turun. Malang tidak ada perubahan karena Malang tidak punya gedung-gedung tinggi. Selain itu juga tidak ada eksploitasi air tanah yang berlebihan karena sebagian besar airnya PDAM. Sebaliknya, Surabaya perkembangannya begitu pesat. Banyak gedung-gedung tinggi. Ada eksploitasi air tanah.

"Hipotesis awal saya adalah Surabaya turun dan Malang nggak ada perubahannya, paling berapa senti. Eh, yang mengagetkan justru sebaliknya," terangnya.

Perubahan yang sangat signifikan tersebut perlu diketahui masyarakat. Harapannya, masyarakat menjadi hati-hati ketika membangun. Misalnya, ketika musim hujan maka akan banyak genangan dan risiko banjir semakin tinggi. Kemudian, risiko terjadinya bangunan runtuh ketika gempa kecil saja akan sangat tinggi. Untuk itu, masyarakat tidak boleh asal membangun. Apabila membangun, konstruksinya harus kuat. Atau bisa membangun dari kayu atau bambu saja.

"Teman saya survey di Lombok. Semua rumah tradisional di Lombok nggak ada yang roboh. Justru yang roboh yang rumah-rumah modernnya. Jadi, membangun itu kalau memang konstruksinya berat berarti harus serius perhitungannya (konstruksinya kuat)," terangnya.

Untuk itu, menurut Fatwa membangun seharusnya ada pengawasan, pemerintah harus mengedukasi, serta perlu ada kurikulum pendidikan mengenai edukasi mitigasi bencana.

Seperti yang diketahui, pembangunan di Malang memang tidak terkontrol. Menurut Fatwa tidak ada rencana tata ruang wilayah yang serius berdasarkan ilmu pengetahuan. Semuanya berdasarkan kekuasaan. Kalau diteruskan begini maka Malang lama-lama akan ambruk.

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close