64 Persen Masyarakat Jatim Belum Melek Produk Jasa Keuangan

Jum'at, 12-10-2018 - 18:51 WIB Kepala OJK Malang Widodo saat ditemui awak media. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES) Kepala OJK Malang Widodo saat ditemui awak media. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

JATIMTIMES, MALANG – Pengetahuan masyarakat akan produk jasa keuangan di Jawa Timur (Jatim) masih relatif rendah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa literasi keuangan di Jatim baru sebesar 35,6 persen. Artinya, masih ada sekitar 64,4 persen warga yang belum melek produk-produk jasa keuangan seperti akses perbankan. 

Meski demikian, Kepala OJK Malang, Widodo mengungkapkan bahwa capaian di Jatim lebih tinggi dibanding nasional yang masih di angka 29,6 persen. Untuk menggenjot angka itu, pada Oktober ini OJK Malang mewajibkan setiap industri jasa keuangan (IJK) melakukan edukasi dan literasi keuangan pada masyarakat.

"Oktober ini dicanangkan sebagai Bulan Inklusi Keuangan. Jadi setiap Industri Jasa Keuangan (IJK) wajib melakukan literasi minimal satu kali di bulan ini," ujarnya.

Widodo menyebut, kegiatan literasi atau sosialisasi yang digelar secara masif dapat meningkatkan pemahaman masyarakat di Malang mengenai IJK. 

Dalam jangka panjang, pengetahuan itu juga membuat semakin banyak masyarakat yang dapat mengakses produk IJK. "Persentase inklusi keuangan di Jatim saat ini telah mencapai 73,25 persen," tuturnya. Angka itu lebih tinggi dibandingkan nasional, yakni 67,8 persen. 

Pemerintah pun menargetkan angka inklusi keuangan sebesar 75 persen di akhir 2019 mendatang. Menurut Widodo, selama ini belum semua kalangan masyarakat mengetahui tentang produk jasa keuangan. 

Upaya literasi itu tidak terbatas pada satu kelompok masyarakat saja, namun bisa ke lembaga pendidikan dan komunitas. "Untuk pegadaian misalnya, masyarakat harus tahu bahwa pegadaian tidak hanya soal barang gadai saja. Tetapi mereka juga punya produk lain seperti arisan emas, menabung emas, dan yang lainnya," tuturnya.

Nantinya, puncak acara bulan inklusi akan digelar pada 4 November mendatang. Pada acara tersebut, sebanyak 166 IJK yang ada di Malang akan ikut terlibat melakukan sosialisasi pada masyarakat. "Di awal November nanti, kami juga akan punya rekapan terkait berapa jumlah peningkatan partisipasi masyarakat yang mengakses produk jasa keuangan setelah adanya bulan inklusi," urainya. 

Sebab, lanjut Widodo, selain melakukan literasi, IJK juga wajib melaporkan peningkatan nasabahnya. "Setelah kegiatan bulan inklusi selesai, kita bisa mengukur seberapa banyak jumlah nasabah baru, baik itu giro, tabungan, dan lainnya," imbuh dia.

Selain pada momen bulan inklusi, OJK Malang juga telah melakukan 47 kegiatan berupa sosialisasi jasa keuangan selama tahun 2018. Namun kendala terbesar adalah sejumlah masyarakat yang masih kesulitan mendapatkan akses masuk ke industri keuangan. "Mereka yang kesulitan itu rata-rata pelaku UMKM ataupun start up bisnis yang tidak feasible atau layak diberi akses perbankan," tuturnya. 

"Sebagai solusinya, pemerintah membuat program jamkrida dan jamkrindo untuk membantu akses permodalan," ungkap Widodo. Program-program di bulan inklusi ini, juga diharapkan dapat meningkatkan persentase inklusi keuangan. "Di Jawa Timur, wilayah Malang merupakan penopang terbesar inklusi keuangan," pungkasnya.

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : A Yahya
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close