Pembongkaran Enam Eks Lokalisasi Masih Jadi Tanda Tanya Masyarakat Kabupaten Malang

Rabu, 07-11-2018 - 13:59 WIB Pembongkaran eks lokalisasi Girun Gondanglegi yang sampai saat ini masih belum terealisasi sejak berapa tahun lalu (Ist) Pembongkaran eks lokalisasi Girun Gondanglegi yang sampai saat ini masih belum terealisasi sejak berapa tahun lalu (Ist)

JATIMTIMES, MALANG – Enam lokalisasi di Kabupaten Malang sejak akhir tahun 2014 secara resmi telah ditutup. Baik lokalisasi yakni Suko (Kecamatan Sumberpucung), Slorok (Kromengan), Kebobang (Wonosari), Kalikudu (Pujon), Embong Miring (Ngantang) dan Pulau Bidadari (Sumbermanjing Wetan). 

Termasuk lokalisasi Girun di Desa Gondanglegi, Kecamatan Gondanglegi. 

Total ada 308 PSK penghuni panti dan 90 mucikari yang harus meninggalkan tempat.

Penutupan tersebut ternyata sempat membuat Pemerintah Kabupaten Malang meradang. Sebab, bisnis esek-esek masih saja berjalan diberbagai eks lokalisasi tersebut. 

Penertiban dan koordinasi lintas sektoral pun kembali digencarkan dalam upaya menghilangkan bisnis lendir ini. 

Beberapa eks lokalisasi berhasil mengubah fungsi dan wujudnya. Sebagian lain masih terus beroperasi dengan cara gerilya. 

Hal ini terlihat dari setiap razia oleh aparat kepolisian. Masih saja ditemukan para pasangan bukan suami istri yang melakukan esek-esek di berbagai eks lokalisasi. 

Di eks lokalisasi Girun, sampai tahun 2017, praktek esek-esek masih saja berlangsung secara sembunyi-sembunyi atau berganti kedok, para PSK masih terus menawarkan kenikmatan badani terlarang ini. 

Hal ini yang membuat Camat Gondanglegi yang lama Kamti Astuti dibuat geram. Masyarakat pun mendukung agar eks lokalisasi Girun yang awalnya  berdiri di kidul pasar sejak 1980, dibongkar. 

Harapan membersihkan eks lokalisasi Girun dengan cara dibongkar dan diubah fungsinya menjadi ruang rekreasi publik. 

Sejak tahun 2017 sampai saat ini belum ada realisasinya. Bangunan eks lokalisasi masih berdiri dan belum terbongkar. 

Lantas dimanakah persoalannya sehingga bangunan eks lokalisasi Girun masih berdiri seperti saat dilakukan penutupan oleh Pemerintah Kabupaten Malang. 

Tatok Irawanto Camat Gondanglegi menyatakan, pihaknya masih memerlukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait, misalnya Satpol PP Kabupaten Malang. 

"Kita masih butuh koordinasi lagi dengan pihak-pihak terkait. Untuk pihak PT KAI selaku pemilik lahan sebenarnya telah memberi lampu hijau pembongkaran. Tapi kita tentu tidak bisa begitu saja membongkar. Kita juga butuh koordinasi dengan Satpol PP Kabupaten Malang," ujar Tatok saat ditanya mengenai rencana pembongkaran yang sejak tahun 2017 lalu telah didengungkan. 

Pun, terkait rencana ke depan mengenai perubahan fungsi dan wujud eks lokalisasi Girun yang pernah memiliki PSK sejumlah 89 orang ini. 

Tatok menyatakan,  tentunya untuk perubahan tersebut memerlukan pemikiran. 

Kini,  pihaknya mencoba untuk fokus terlebih dahulu pada proses pembongkaran eks lokalisasi Girun. 

"Untuk pembongkaran sesuai Standart Operasional Prosedur (SOP)  wilayahnya Satpol PP Kabupaten. Jadi kita tunggu dulu sampai ada kepastian dari sana," ucapnya. 

Fenomena bisnis esek- esek di Girun cukup fenomenal laiknya eks lokalisasi Dolly di Surabaya. 

Dari nama pendirinya yaitu Girun yang merupakan orang kedua lahirnya lokalisasi (tahun 1983) yang sangat terkenal sebagai tempat pemuas nafsu pria hidung belang.

Hasan Abadi Rektor Unira Kepanjen pernah menyampaikan,  bahwa persoalan prostitusi di Kabupaten Malang, tidak bisa hanya sekadar penyelesaian kulit luar saja. Yakni dengan penutupan saja. 

Solusinya adalah pengawasan ketat, kebijakan terarah pemerintah serta dukungan masyarakat. 

Tanpa itu prostitusi akan semakin tidak terpantau dan berbahaya. 

"Jadi, masalah ini belum selesai kalau sekadar hanya menutup lokalisasi, memberi dana sosial dan pelatihan temporal saja. Tapi perlu adanya pencerdasan dan kesejahteraannya juga bagi mereka," ujar Hasan. 

Pemetaan PSK dikarenakan motif ekonomi dan kebodohan, bisa dilakukan pendekatan tersebut.

"Kalau motifnya lain, ya regulasi yang ketat yang bisa meminimalisirnya. Pembongkaran serta alih fungsi bisa jadi solusinya," imbuh Hasan.

Pewarta : Dede Nana
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close