Kunjungi Sleman, Petani Tembakau Blitar Belajar Bertani Organik Ala Joglo Tani

Kamis, 08-11-2018 - 17:40 WIB Pengelola Joglo Tani To Suprapto memberikan paparan kepada petani Kab Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES) Pengelola Joglo Tani To Suprapto memberikan paparan kepada petani Kab Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

JATIMTIMES, BLITAR – Puluhan petani asal Kabupaten Blitar yang mengikuti studi banding budidaya tembakau di Jawa Tengah menutup kegiatan dengan berkunjung ke Joglo Tani, di Dusun Mandungan, Desa Margoluwih, Kecamatan Sayegan, Kabupaten Sleman, Jogjakarta, Kamis (8/11/2018).

Joglo Tani merupakan pusat pelatihan untuk mendidik dan membina petani secara mandiri, terstruktur, dan berkelanjutan yang yang berasal dari, dikelola dan bagi kepentingan petani itu sendiri. 

Bersimbolkan bangunan khas jawa, Joglo Tani, merupakan representasi terwujudnya kebangkitan para petani untuk memajukan keberadaan tani itu sendiri.

Kepala Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) Dinas Pertanian Pemkab Blitar, Hari Budi Harto, mengatakan kunjungan ke Joglo Tani ini merupakan upaya studi lapang bagi petani untuk memperkaya wawasan dan budidaya usahanya.

Joglo Tani merupakan lembaga yang berupaya menjadi wadah pengembangan keahlian untuk petani padi, umbi-umbian, hingga pembudidaya ikan dan peternak unggas. saat ini, Joglo Tani telah berkembang menjadi pusat pelatihan pertanian terpadu, mulai dari hulu hingga hilir.

“Petani tembakau, seandainya nanti pemerintah mengurangi kuota tembakau, mereka (petani) sudah siap dengan komoditas alternative yang menguntungkan selain tembakau. Seperti padi, umbi-umbian atau beternak,” ucap Hari Budi Harto kepada BLITARTIMES.

Dikatakan, selain komoditas alternative, diharapkan melalui kunjungan lapang ini para petanio terinspirasi untuk mendirikan wisata pertanian. 

Sebagaimana diketahui, saat ini industry wisata di Kabupaten Blitar tengah menggeliat.

“Kabupaten Blitar saat ini tengah giat-giatnya mengembangkan pariwisata. Selain pusat pendidikan petani, Joglo Tani juga merupakan wisata pertanian yang terkenal seantero Indonesia. Mungkin wisata semacam ini bisa kita bawa ke Kabupaten Blitar,” ujarnya.

Sementara pendiri dan pengelola Joglo Tani, To Suprapto, dalam kesempatan ini menyampaikan Joglo Tani mengusung konsep pertanian terpadu. Yakni pertanian yang memanfaatkan lahan sempit tapi bisa menghasilkan optimalisasi lahan.

“Konsepnya kami namakan lumbung mataraman, konsep kedaulatan pangan. Dimana kedaulatan pangan itu adalah menanam apa yang kita makan dan makan apa yang kita tanam. Sehingga apa yang kita tanam itu adalah yang mengandung karbohidrat, protein dan biji-bijian. Itu ada tanaman akar, batang, daun, bunga. Lalu ada ikan dan unggas. Inilah konsep Joglo Tani,” terangnya.

Sebagai pusat belajar kaum petani, Joglo Tani tak pernah sepi dikunjungi petani dari Sabang sampai Merauke, bahkan dari luar negeri, datang berguru. 

Ibarat dunia persilatan, Pria yang akrab disapa Pakdhe To adalah seorang suhu yang harus dicari untuk berguru. 

Bagi Suprapto, dikutip dari Indonesia Proud, bertani organik bagi dia merupakan sebuah filosofi. 

Bertani organik juga adalah soal kebutuhan dan kejujuran. Dari tembang-tembang Jawa kuno, ia menimba ilmu pertanian.

Lima paweling atau wejangan tentang pertanian pun disarikannya dari tembang kuno sebagai dasar lahirnya konsep pertanian Manajemen Akar Sehat (MAS). 

Tahun 1996 konsep MAS itu dibagikan kepada petani dari 16 negara dan daerah Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang berlatih di wahana pembelajaran organik Joglo Tani yang ia dirikan.

Metode MAS lalu dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris menjadi System of Rice Intensification (SRI). 

Metode SRI sukses dikembangkan di Madagaskar. Anehnya, Pemerintah Indonesia mengadopsi teknologi itu dari Madagaskar, bukan dari sumbernya di Sleman. 

”Teknologi temuan petani masih dianggap remeh karena bukan temuan institusi,” ujarnya,

Metode SRI terbagi tiga prinsip pertanaman, yaitu tanam satu, tanam muda, dan tanam dangkal.

Padi ditanam satu bibit satu lubang, bibit harus sudah berdaun empat, dan ditanam dangkal. Metode SRI terbukti meningkatkan hasil dan ramah lingkungan.

Wejangan lain tentang pertanian yang dianjurkan adalah pemberian pupuk sebagai makanan dan air sebagai penghidupan. 

Keduanya harus seimbang. Keluarnya bunga jangan sampai bersamaan dengan banyaknya angin sehingga harus ada perhitungan jadwal tanam.

”Metode ajaran leluhur dipakai, tetapi kita harus terus membaca situasi kekinian dengan memasukkan teknologi di tengah perubahan iklim,katanya.

Lebih lanjut Suprapto berharap dari kunjungan ke Joglo Tani ini petani Kabupaten Blitar bisa mendapatkan inspirasi. 

Menurut dia, tembakau yang termasuk dalam tanaman daun juga bisa dikembangkan melaui metode Lumbung Mataraman.

“Tembakau masuk dalam tanaman daun, jadi bisa saja tembakau dikembangkan melalui konsep ini. Yang terpenting itu ruh nya, kalau raga itu bisa dimana aja,” tegas dia.(kmf)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Blitar TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close