Kelompok Barongsai Kelenteng Poo An Kiong Blitar Siapkan Pertunjukan Peringatan Hari Jadi Majapahit

Jum'at, 09-11-2018 - 10:23 WIB Barongsai Kelenteng Poo An Kiong Blitar.(Foto : Team BlitarTIMES) Barongsai Kelenteng Poo An Kiong Blitar.(Foto : Team BlitarTIMES)

JATIMTIMES, BLITAR – Barongsai adalah kesenian tradisional yang berasala dari China yang memiliki sejarah ribuan tahun. Kesenian ini mulai populer di zaman Dinasti Nan Bei tahun 405-589,  diperkirakan masuk Indonesia pada abad 17 dan marak ketika masih ada perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan.

Di era Orde Baru tepatnya pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, kesenian tradisional asal China (Tiongkok) termasuk juga barongsai sempat dilarang ditampilkan pada publik. Dalam masa politik saat itu segala macam bentuk kebudayaan Tionghoa di Indonesia dibungkam, termasuk barongsai.

Setelah Orde Baru tepatnya pada masa pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid atau akrap disapa Gus Dur, larangan tersebut dicabut. Saat itu Gus Dur mengeluarkan Keppres No 6 Tahun 2000 yang mencabut Inpres 14 Tahun 1967 tentang segala adat istiadat, kepercayaan dan budayanya. Keluarnya Keppres tersebut diikuti oleh munculnya kelompok barongsai di Tanah Air. Termasuk, kelompok Barongsai dan Liong Klenteng Poo An Kiong yang bermarkas di Jalan Merdeka Barat, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar.

Seperti pertunjukan barongsai pada umumnya, kelompok Barongsai Klenteng Poo An Kiong identik ditampilkan pada peringatan hari-hari besar etnis Tionghoa seperti perayaan hari raya Imlek dan juga Cap Go Meh. Akan tetapi uniknya Barongsai di Blitar juga banyak di gemari oleh keturunan Jawa.

Daniel (37), selaku pelatih Barongsai dan Pengurus Klenteng Poo An Kiong Blitar, mengatakan bahwa banyaknya orang jawa yang jadi pemain Barongsai disebabkan tingginya ketertarikan  orang Jawa terhadap seni budaya Tionghoa.

“Kalau orang Jawa tertarik dengan Barongsai karena mungkin dulunya gak pernah lihat. Jadi sebenernya meskipun Borangsai ini identik dengan Tionghoa kami tidak membatasi, selama mereka niat, minat sama hobi ya monggo!, gak harus dari orang Tionghoanya sendiri endak, karena memang Barongsai ini kesenian dan perpaduan budaya” ungkap Daniel kepada BLITARTIMES, Kamis (8/11/2018).

Dilansir dari travel.kompas.com, uniknya penyebutan Barongsai sebenarnya hanya ada di Indonesia. Nama asli kesenian ini di China adalah 'Wu Shi'. Negara Barat menyebut Barongsai sebagai 'lion dance'. Nama Barongsai sendiri merupakan cerminan akulturasi China di Indonesia. 'Barong' berasal dari kesenian boneka Bali yang dimainkan oleh manusia di dalamnya. Sementara 'Sai' dalam bahasa Hokkian berarti singa.

Daniel menambahkan bahwa eksistensi Barongsai sebagai sebuah kesenian Tionghoa bukan hanya pada lingkup acara di sekitaran Klenteng saja, akan tetapi juga bisa tampil di berbagai acara lintas kesenian, “Sebenarnya sama aja kayak Jaranan, kami diundang di acara bersih desa juga pernah, terus perayaan karnaval, pernikahan atau hajatan juga bisa. Ini paling dekat 17 November kita diundang di Candi Simping di acara Festival Getih Getah Gula Kelapa memperingati hari jadinya Majapahit,” sambungnya.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Dewan Kesenian Kabupaten Blitar, Rahmanto Adi yang juga salah satu penggagas berdirinya Festival Getih Getah Gula Klapa di Candi Simping, berpendapat bahwa selain untuk mengangkat kesenian lokal, keberadaan Kerajaan Majapahit tentu masih memiliki keterkaitan dengan kebudayaan Tionghoa.

“Dalam sejarah tercatat setelah Jayakatwang dikalahkan oleh aliansi pasukan Mongol dan pasukan Jawa dibawah pimpinan Nararya Sanggramawijaya, maka Kerajaan Kadiri pun runtuh dan berdirilah Kerajaan Majapahit” pungkasnya.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Blitar TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close