Polemik Coban Sewu, Juara Anugerah Wisata Jatim 2018 (9)

Pemprov Jatim Masih Diam, Pemkab Malang Siap Surati Lagi

Jum'at, 09-11-2018 - 12:04 WIB Made Arya Wedanthara, kadisparbud Kabupaten Malang, bersiap kembali layangkan surat kedua ke Pemprov Jatim atas persoalan wisata Coban Sewu (Nana) Made Arya Wedanthara, kadisparbud Kabupaten Malang, bersiap kembali layangkan surat kedua ke Pemprov Jatim atas persoalan wisata Coban Sewu (Nana)

JATIMTIMES, MALANG – Polemik Coban Sewu atau Tumpak Sewu yang akhirnya melahirkan berbagai pernyataan dari pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang  semakin membuktikan ada persoalan serius dalam batas wilayah daerah di Jawa Timur (Jatim).

Bupati Lumajang Thoriqul Haq kepada LumajangTimes Group Jatimtimes.com (01/11/2018) menanggapi polemik tersebut. “Tumpak Sewu itu melihatnya memang dari kita (Lumajang, red). Terus mau diapakan. Kalau itu miliknya Kabupaten Malang, air terjunnya ya, tapi turun ke bawah punya Lumajang. Melihatnya juga dari Lumajang. Terus mau apa,” ujar Thoriqul Haq menanggapi polemik wisata air terjun Coban Sewu yang terletak di Dusun Jagalan, Desa Sidorenggo, Kecamatan Ampelgading, itu.

Baca : Soal Tumpak Sewu, Bupati Lumajang : Air Terjunnya Turunnya Ke Lumajang Mau apa??

Hal tersebut yang membuat polemik wisata air terjun sampai saat ini belum menemukan titik terang dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disparbud). Padahal,  pihak Pemkab Malang melalui Disparbud telah melayangkan surat protes resmi sejak tanggal 29 Oktober 2018 lalu. Tapi, sampai saat ini belum ada jawaban dari pihak Pemprov Jatim atas persoalan tersebut.

Bahkan kepala Disparbud Provinsi Jatim tidak memberikan keterangan apa pun saat MalangTimes mencoba mengonfirmasikan hal tersebut melalui pesan singkat WA tanggal 01/11/2018 lalu.

Hal inilah yang membuat Diparbud Kabupaten Malang akan kembali menyurati persoalan tersebut kepada Pemprov Jatim. “Kami akan kembali mengirim surat tersebut. Hal ini perlu ada kepastian dan statemen dari Pemprov Jatim, dalam hal ini Disbudpar. Agar masyarakat mengetahui dasar dari air terjun Tumpak Sewu yang diakui milik Lumajang dan menang di AWJT (Anugerah Wisata Jawa Timur) 2018 lalu,” kata Made Arya Wedanthara, kepala Disparbud Kabupaten Malang, Jumat (09/11/2018) kepada MalangTIMES.

Pernyataan tersebut secara lugas menyatakan bahwa surat resmi pertama Disparbud Kabupaten Malang belum ditindaklanjuti. Sehingga Disparbud Kabupaten Malang kembali ancang-ancang untuk menyuratinya lagi.

"Yang protes kan bukan kami. Jadi, kami diam saja, kecuali ada keputusan dari provinsi, baru akan kami sikapi. Sampai sekarang kami merasa Tumpak Sewu ya milik Lumajang,” ujar Wakil Bupati Lumajang Indah Amperawati, seperti dilansir LumajangTimes.

Pernyataan itulah yang membuat Disparbud Kabupaten Malang bersikap aktif dalam persoalan tersebut. Apalagi, bukti-bukti menunjukkan CobaN Sewu berada di wilayah Kabupaten Malang. Baik yang dibuktikan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 86 Tahun 2013 tentang Batas Daerah Kabupaten Malang dengan Kabupaten Lumajang maupun dari pernyataan-pernyataan pihak terkait, seperti Perhutani maupun pihak Desa Sidorenggo melalui buku desa.

Herianto, kepala Desa Sidorenggo, Kecamatan Ampelgading, menyampaikan berdasarkan data pada buku desa yang ada, lokasi Coban Sewu memang masuk wilayah desanya. “Masuk ke wilayah Desa Sidorenggo, Kecamatan Ampelgading,” ujarnya.

Tapi, walau berbagai pernyataan dan bukti di atas telah disampaikan, pihak Pemkab Lumajang tetap ngotot  mengklaim wilayah tersebut serta menunggu dari keputusan Pemprov Jatim, seperti yang diungkapkan wabup Lumajang.

Made Arya menyampaikan, kalau memang menurut pihak Lumajang wisata Coban Sewu memang miliknya, Lumajang diminta mengusulkan revisi batas wilayah yang telah ada ke Mendagri. "Bereskan? Jangan terus seperti ini,” ucapnya.

Dirinya juga akan sangat menghargai apabila dua desa di wilayah berbeda, yakni Desa Sidorenggo, Ampelgading, Kabupaten Malang, dan Desa Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, bisa mengelola secara bersama-sama wisata air terjun tersebut.

Made juga menanggapi pernyataan pihak Kabupaten Lumajang melalui bupati-nya yang menyatakan bahwa selama ini yang mempromosikan tempat tersebut adalah  Lumajang. Sedangkan Kabupaten Malang tidak pernah mengajukannya dalam setiap event pariwisata, baik di tingkat nasional maupun Jawa Timur serta menunjuk persoalan tersebut adalah kesalahan Kabupaten Malang.

“Ya salahnya Malang tidak mempromosikan, dan kita jadi benar karena kita yang mempromosikan, kan begitu,” ujar Thoriqul Haq.

Made Arya menjawabnya dengan menyampaikan, sebagai pemilik wisata air terjun yang diklaim Kabupaten Lumajang, pihaknya memang tidak pernah ada niatan untuk melombakan lokasi tersebut.

“Kita tidak punya niat melombakan wisata tersebut sampai saat ini. Bahkan harapan kami wisata ini bisa dikelola oleh dua desa lain Kabupaten kok. Sehingga bisa lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya. (*)

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close