UM Lahirkan Guru Besar Fisika Baru

Jum'at, 11-01-2019 - 18:48 WIB Guru besar baru UM Prof Dr Sutopo MSi (Foto: Humas) Guru besar baru UM Prof Dr Sutopo MSi (Foto: Humas)

JATIMTIMES, MALANG – Awal tahun 2019 ini, Universitas Negeri Malang (UM) akan melahirkan guru besar baru. Guru besar baru tersebut dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), yakni dosen fisika FMIPA Prof Dr Sutopo MSi. Sutopo akan dikukuhkan menjadi guru besar  14 Januari mendatang.

Saat ditemui usai gladi bersih di gedung rektorat UM, Sutopo menyatakan bahwa banyak tantangan yang guru fisika hadapi agar siswa meraih tujuan penting dari pelajaran fisika. Tujuannya sendiri adalah memfasilitasi siswa memahami fisika secara terintegrasi dan koheren sehingga mampu menerapkannya untuk memecahkan masalah secara efektif.

Sutopo menyatakan salah satu tantangan guru yakni berkaitan dengan pengetahuan awal siswa. Sebelum belajar fisika secara formal, siswa sudah memiliki teori sendiri tentang bagaimana alam bekerja. Teori-teori itu dibangun berdasarkan pengalaman panjang berinteraksi dengan lingkungan, tetapi tidak dirumuskan melalui rangkaian berpikir yang mendalam. Karena itu, biasa dilabeli dengan teori naif.

"Pada umumnya teori naif itu berupa potongan-potongan pengetahuan yang tidak terintegrasi secara koheren. Akibatnya, ketika menjelaskan fenomena alam, penjelasan yang dihasilkan seringkali tidak cocok dengan penjelasan ilmiah. Celakanya, siswa cenderung tetap menggunakan teori naifnya meskipun prinsip fisika yang relevan sudah mereka pelajari," paparnya.

Nah, terkait pengetahuan awal tersebut, Setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan dan ditangani oleh guru dengan seksama. "Pertama, kita (guru fisika) perlu hati-hati ketika mengajarkan fisika secara induk berdasarkan fenomena nyata," tandasnya.

Belajar fisika melalui fenomena sehari-hari memang disarankan oleh para peneliti pendidikan fisika. Namun, tanpa fasilitasi yang cukup dari guru, cara belajar tersebut bisa kontraproduktif. Mengingat siswa cenderung membuat generalisasi secara tergesa-gesa berdasarkan pada fitur-fitur yang nampak di permukaan saja.

"Kedua, kita perlu memperhatikan dengan sungguh-sungguh berbagai teori naif (potongan-potongan pengetahuan) yang dimiliki siswa," lanjutnya.

Tugas guru, menurut Sutopo, adalah memperkuat rangkaian potongan pengetahuan yang cocok dengan teori ilmiah dan memperlemah kaitan antarpotongan yang tidak cocok.

"Semakin sering rangkaian pengetahuan diaktivasi (digunakan) semakin besar kemungkinannya tersimpan sebagai struktur pengetahuan yang kokoh dan mudah dipanggil ketika diperlukan," imbuhnya.

Ketiga, mengenai cara belajar siswa melalui bab-bab yang terpisah. Guru perlu mengantisipasi itu. "Meskipun tidak bisa dihindari bahwa pembelajaran perlu dikemas berdasarkan bab, kita harus memperhatikan secara seksama bagaimana keterkaitan materi antara bab itu dapat membantu siswa membangun pengetahuan fisika secara koheren," ujarnya.

Nah, jika hal itu sudah dilakukan, hal berikut yang juga tidak kalah penting adalah bagaimana membantu siswa mengkaitkan ide fisika yang sedang dipelajari pada suatu bab dengan ide-ide yang sudah dipelajari pada bab-bab sebelumnya. "Membiarkan siswa mengkaitkan sendiri tampaknya bukan keputusan yang bijak," pungkasnya.

 

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close