Siswi Lahirkan Bayi Di WC Puskesmas Kauman Akui Ayah Bayi Adalah Temannya

Sabtu, 12-01-2019 - 21:02 WIB Bayi yang meninggal di WC Puskesmas Kauman / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES Bayi yang meninggal di WC Puskesmas Kauman / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES

JATIMTIMES, TULUNGAGUNG – Identitas ayah kandung atau orang tua biologis bayi yang diketahui meninggal dunia di WC Puskesmas Kauman hingga tewas telah di kantongi penyidik. Meski begitu, polisi masih akan melakukan gelar perkara untuk langkah hukum yang akan diambil setelah meminta keterangan tiga saksi dan Rosa (initial) siswi salah satu SMA yang menjadi ibu kandung bayi.

"Ayahnya sudah diketahui, dia bilang temannya. Namun kita masih dalami dan akan kita sampaikan setelah gelar perkara," kata Kasat Reskrim Polres Tulungagung AKP Hendro Triwahyono Sabtu (12/1)

Lanjut Hendro, pendalaman penting dilakukan sebelum menyimpulkan apakah ibu kandung bayi akan menjadi tersangka atau tidak. Polisi masih berupaya mengungkap secara detail terkait hubungan asmara hingga berujung kehamilan itu.

Namun, kasat Reskrim tidak membantah jika teman yang dimaksud juga masih dibawah umur. Dari autopsi yang dilakukan pada Jum'at (11/11) malam itu petugas temukan  luka bekas cekikan pada leher dan pendarahan pada perut bayi malang itu. 

Sedang penyebab kematian bayi itu diduga karena cekikan di leher. “Cekikan itu yang membuat bayi mati lemas,” terang Hendro, selepas otopsi.

Sedangkan luka pendarahan pada perut, diduga terjadi karena upaya mengeluarkan bayi oleh Rosa dari dalam closet. Petugas terpaksa menjebol kloset dengan harapan bayi itu bisa keluar dengan mudah. Namun ternyata lubang itu masih tidak cukup untuk dilalui tubuh bayi nahas itu.

“Karena dipaksa keluar ke dalam lubang closet itulah timbul pendarahan di perut bayi,” sambung Hendro. 

Penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Tulungagung juga sudah meminta keterangan Rosa. Rosa menjelaskan, saat bayi itu lahir langsung diangkat dengan tangan kiri.
Ia mengaku tali pusar bayi putus dengan sendirinya. 

Sempat menangis sesaat setelah dilahirkan,  bayi dengan panjang 49 sendimeter dan berat 2,8 kilogram ini disiram air oleh Rosa dengan harapan agar diam. “Pengakuannya, bayi itu kemudian jatuh ke dalam closet,” ungkap Hendro. 

Suara tangisan bayi disamarkan oleh Rosa dengan menyalakan kran. Dari keterangan Rosa dan hasil autopsi yang cocok,  petugas akan melakukan gelar perkara untuk menentukan status Rosa, tetap menjadi saksi atau menjadi tersangka. 

Jika terbukti sebagai pembunuh bayi itu, hukuman berat menanti Rosa. Ia akan dijerat  dengan Undang-undang perlindungan anak, Pasal 80 ayat 3 dan 4, dengan ancaman 15 tahun penjara.
Namun jika Rosa  juga terbukti sebagai ibu dari bayi itu, ancaman hukuman akan ditambah satu per tiga atau menjadi 20 tahun penjara. 

Penyidik juga masih menunggu hasil tes DNA, untuk memastikan bahwa Rosa adalah orang tua bayi yang tewas itu. 

Pewarta : Anang Basso
Editor : Moch. R. Abdul Fatah
Sumber : Tulungagung TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close