Wali Kota Probolinggo Tanggung Pengobatan Penderita Sakit Kulit

Minggu, 10-02-2019 - 20:42 WIB Djuhar saat diperiksa dokter di rumahnya disaksikan wali kotaHadi Zainal Abidin (Agus Salam/Jatim TIMES) Djuhar saat diperiksa dokter di rumahnya disaksikan wali kotaHadi Zainal Abidin (Agus Salam/Jatim TIMES)

JATIMTIMES, PROBOLINGGO – Djuhar (82) warga miskin yang pada Sabtu malam dibawa Wali Kota Probolinggo Habib Hadi Zainal Abidi ke RSUD dr Muhammad Saleh, dikabarkan telah pulang. Hanya saja, bapak renta yang tinggal di jalan KH Hasan Genggong Gang Lele, Kelurahan Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran itu, dianjurkan kontrol ke puskesmas.

Hal tersebut disampaikan Plt Direktur RSUD dr Mohamad Saleh, drg Rubiyati saat dihubungi Minggu (10/1) pagi. Menurutnya, pasien diizinkan pulang malam itu juga sekitar pukul 22.30 diantar dengan ambulance. Selanjutnya pasien bisa kontrol ke puskesmas terdekat. “Setelah dianamnesa (pengambilan data), diperiksa dan dilakukan observasi, pasien tidak perlu rawat inap,” ujarnya.

Kondisi Djuha dan istrinya Rusni (60) yang tinggal bersama anaknya, Rasyid (37), sempat jadi perhatian serius Wali Kota Habib Hadi Zainal Abidin. Ha itu setelah mengetahui dari medsos penyakit dan kondisi kediaman pasutri tersebut, wali kota yang masih menjabat 11 hari ini, Sabtu malam langsung meluncur ke kediamannya di Kelurahan Kebonsari Wetan. 

Sesampainya di lokasi, wali kota langsung menghubungi RSUD dr Mohamad Saleh, meminta segera mengirim ambulance sekaligus tim kesehatan. Habib Hadi-sapaannya, sempat menunggui dan melihat Djuhar diperiksa tim kesehatan. Usai diperiksa, bapak yang memiliki satu anak ini dibawa ke UGD RSUD. “Untuk mengetahui kondisi pak Djuhar sebenarnya,” ujar Habib

Wali kota akan membantu seluruh kebutuhan pasutri miskin yang memiliki anak keterbelakangan mental tersebut. Tak hanya menggratiskan pengobatan Djuhar, istri dan anaknyapun ikut digratiskan memeriksakan penyakitnya. Termasuk pembenahan rumah sekaligus saluran listrik. “Kami akan pasang listrik baru, tapi pak Djuhar tidak berkenan. Katanya takut kena strum. Ya maklum, sudah tua. Rumahnya kan belum teraliri listrik,” tambah Hadi.

Wali Kota Hadi berharap lurah, ketua RW dan RT harus peka ke warganya. Puskesmas juga diminta turut mengawasi kondisi Djuhar. Jika yang bersangkutan tidak bisa ke puskesmas, dijemput dan dibawa ke puskesmas. “Jangan sampai ada warga yang kelewatan. Harus diperhatikan warganya. Bila perlu Lurah, RT dan RW) keliling agar tahu kondisi wilayah dan warganya,” harap Hadi.

Untuk diketahui berdasarkan kabar dari  media sosial, ada pasangan suami istri (pasutri) yang tinggal bersama istri dan 1 anaknya di rumah yang kondisinya memprihatinkan. Tanpa penerangan listrik dan untuk makan setiap hari, harus dibantu orang lain. Bahkan, Djuhar terkadang menjadi peminta-minta untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Hasil diagnosa RSUD, Djuhar menderita penyakit kulit di sekujur tubuhnya dan jantung. Sedang Rasyid menderita keterbelakangan mental.

Kepala Dinsos, Zainullah mengatakan, kalau Djuhari sudah masuk data BDT kemiskinan dan mendapatkan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) berupa 10 kg beras dan 10 biji telor setiap bulan. Ia juga tercatat di PKH (Program Keluarga Harapan) dan mendapat bantuan Rp 500 ribu tiga bulan sekali. “Untuk RTLH (Rumah Tidak Layak Huni) kami upayakan. Untuk penerangan rumahnya dari kami (Dinas Sosial) sesuai petunjuk bapak wali kota,” kata Zainullah.

 

Pewarta : Agus Salam
Editor : A Yahya
Publisher : Yogi Iqbal
Sumber : Probolinggo TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close