Dikaitkan dengan Penyebar Isu Kiamat, Begini Tanggapan Pihak Pondok Pesantren Miftahu Falahi Mubtadi'ien

Kamis, 14-03-2019 - 10:31 WIB Spanduk yang dipasang di gang untuk menyambut jemaah dari PP Miftahu Falahi Mubtadi Spanduk yang dipasang di gang untuk menyambut jemaah dari PP Miftahu Falahi Mubtadi'ien dusun Sukosari, Desa Purwosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang

JATIMTIMES, MALANG – Sebanyak 52 warga dari 16 KK Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, pindah ke sebuah pondok pesantren di Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, lantaran adanya isu kiamat. 

Isu tersebut sudah tersebar di jejaring sosial Facebook.

Peristiwa tersebut viral setelah di unggah ke akun facebook miliknya. 

Menanggapi isu tersebut, pihak Pondok Pesantren Miftahu Falahi Mubtadi'ien, Nur Khoiron. 

Pengasuh pesantren di Desa Pulosari, tersebut memamparkan bahwa pihak pondok pesantren tidak melakukan hal - hal seperti yang dijelaskan dalam media yang sudah tersebar. 

Ia mengatakan bahwa info tersebut adalah hoax.

Ia mengatakan bahwa pihak ponpes sudah melakukan mediasi dengan Muspika, MUI, dan beberapa instansi terkait pada Selasa (12/3/2019) kemarin.

"Kita kemarin sudah didatangi oleh Muspika, MUI, GP Ansor dan instansi terkait lainnya," tegas Nur Khoiron kepada Malang Times saat ditemui di Pondok Pesantren Miftahu Falahi Mubtadi'ien Rabu (13/3/2019).

Lanjutnya, adik dari pemilik pondok pesantren, Romo Ramli Soleh Syaifuddin tersebut menegaskan semua kegiatan yang dilakukan di pesantren tidak ada yang melanggar aturan.

"Kegiatan kita di sini ya seperti pondok pesantren lainnya, tidak ada yang menyeleweng, bahkan MUI tidak mempermasalahkan" tegas Nur.

Saat ditanya, ia juga mengatakan bahwa sebenarnya pondok pesantren tersebut juga memiliki cabang di beberapa tempat seperti yang ia sebutkan salah satunya ada di Ponorogo.

"Berita itu salah, sebenarnya di Ponorogo itu kita ada cabang di sana, dan dibeberapa tempat lain juga" ujarnya.

Nur menuturkan ada 300 jamaah yang bermukim di pondok pesantren tersebut. 

Jamaah tersebut dikatakannya berasal dari Surabaya, Mojokerto, Ponorogo, dan Jawa Tengah. Bahkan ada yang dari Lampung.

Sedangkan untuk santrinya sendiri dikatakan Nur sekitar 500 orang.

Namun, ia mengaku tidak bisa memberi informasi lebih lanjut terkait masalah ini tanpa seizin pengasuh pesantren. Hal tersebut lantaran ada peraturan yang mengatakan demikian.

"Saya tidak bisa memberikan keterangan lebih lanjut, kita patuhi aturan yang ada di ponpes, harus ada izin dari pemimpin dulu," pungkas Nur.

Sementara itu, pihak pondok pesantren juga melarang awak media yang datang untuk mengambil gambar berupa foto maupun video di area pesantren.

Bahkan, untuk kepentingan peliputan awak media terus dikawal agar tidak mengambil gambar. 

Tidak hanya itu, saat keluar dari pondok pesantren tersebut, awak media harus melalui proses pemeriksaan yang ketat.

 Gadged maupun alat yang dibawa awak media diperiksa dan diminta menghapus video atau foto jika sempat diambil di pondok pesantren tersebut.

Pewarta : Luqmanul Hakim
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close