Geregetan karena Terindikasi Lakukan Money Politic, Caleg Incumbent Dapil Turen Dilaporkan Saudaranya Sendiri

Sabtu, 20-04-2019 - 21:34 WIB Ilustrasi penyelenggaraan pemilu 2019, Kabupaten Malang Foto : (Dokumen MalangTIMES) Ilustrasi penyelenggaraan pemilu 2019, Kabupaten Malang Foto : (Dokumen MalangTIMES)

JATIMTIMES, MALANG – Penyelenggaraan pesta demokrasi tahun 2019 ini, ternyata tidak luput dari dugaan adanya praktik kecurangan. 

Hal itu terbukti dari temuan Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu), jika beberapa titik di Kabupaten Malang masih ditemukan bukti-bukti adanya “serangan fajar” (money politic) sesaat sebelum pencoblosan. 

Bahkan petugas juga menemukan adanya tindakan kampanye saat memasuki masa tenang.

“Kami menemukan dan mendapatkan laporan jika ada praktik money politic di wilayah Kecamatan Turen, serta kampanye di hari tenang yang terjadi di Kecamatan Kepanjen dan Pagelaran ,” kata salah satu petugas Bawaslu Kabupaten Malang yang mewanti-wanti agar namanya tidak disebut.

“Kasus di Turen itu, adalah praktik money politic yang dilakukan salah satu Caleg Dapil (Daerah Pilihan) Turen. Dia adalah incumbent (petahana), dan yang melaporkannya adalah saudaranya sendiri,” sambung salah satu sumber MalangTIMES ini.

Dari penelusuran wartawan, pelapor nekat melaporkan saudaranya sendiri karena diduga sering melakukan praktik kecurangan demi memenangkan sang incumbent. 

“Geregetan karena dia (terlapor) selama ini sering melakukan kecurangan,” kata sang pelapor saat dimintai keterangan petugas Bawaslu Kabupaten Malang.

Hasil penelusuran ini, membuat MalangTIMES mencoba untuk mengkonfirmasi sumber resmi. 

Ketika ditanyakan terkait praktik money politic yang terjadi di Dapil wilayah Turen tersebut Koordinator Divisi Penindakan Pelanggaran Bawaslu Kabupaten Malang George da Silva membenarkan temuan wartawan. 

“Saat ini kasusnya masih dalam proses penyidikan,” ungkap George.

Bagi-bagi “mahar” ke calon pemilih itu, dilakukan dengan cara menyebar “amplop” yang berisi uang. 

Dari penelusuran Bawaslu, uang yang dibagikan tersebut senilai Rp 40 ribu. 

“Kami menemukan barang bukti money politic berupa uang senilai Rp 40 ribu dengan nominal pecahan Rp 5 ribu sejumlah empat lembar, dan Rp 20 ribu satu lembar,” terang George.

Sumber lain mengatakan, praktik kecurangan semacam ini dugaannya dilakukan oleh tim sukses dari Caleg. 

Bahkan disinyalir sebagian pelaku kecurangan masih tercatat sebagai sebagai anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) aktif Kabupaten Malang. 

Modusnya dengan membagi-bagikan uang yang turut diselipkan kode khusus yang mengarah kepada sang caleg yakni kode 14/1.

“Selain itu (Kasus Turen), Kami juga menemukan pelanggaran di wilayah Kecamatan Pagelaran dan Kepanjen,” sambung George kepada MalangTIMES, Sabtu (20/4/2019).

Di dua wilayah tersebut (Kepanjen dan Pagelaran), George mengaku wujud pelanggarannya adalah melakukan kampanye di masa hari tenang. 

Modusnya dengan membagikan formulir C6 kepada calon pemilih, serta dilampirkan kartu identitas salah satu calon peserta yang diduga berasal dari Partai Nasdem.

Praktik kecurangan yang terjadi di Kecamatan Pagelaran dan Kepanjen ini, disinyalir terjadi di TPS (Tempat Pemungutan Suara) 10, 18, dan 32. 

“Total ada tiga orang yang kami berikan sanksi secara administrasi, yakni dicopot sebagai petugas TPS. Kami langsung memberikan rekomendasi untuk memberikan sanksi tersebut, dan sudah disepakati oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) Kabupaten Malang,” tegas George.

Pihaknya menambahkan, merujuk pada Undang-Undang (UU) Pemilu Nomor 7 Tahun 2017 jika tidak diperkenankan melakukan aktivitas kampanye saat memasuki masa tenang apalagi praktik politik uang. 

“Jika masih nekat dan terbukti melakukan kecurangan, maka bisa diancam kurungan penjara maksimal 4 tahun dan denda Rp 48 juta,” pungkasnya.

Pewarta : Ashaq Lupito
Editor : Heryanto
Publisher :
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close