MEI 98, WAKTU ITU!

Rabu, 15-05-2019 - 17:15 WIB Salah satu pemandangan aksi demonstrasi Mei 98.(Foto : DW) Salah satu pemandangan aksi demonstrasi Mei 98.(Foto : DW)

JATIMTIMES, BLITAR – Saya waktu itu berada pada masa lulus SMA dan menunggu kuliah. Saya mendengar berbagai perlawanan mahasiswa dari berita hanya dari TV—dan sedikit dari koran karena biasanya saya baca koran (Jawa Pos) di Perpustakaan sekolah. Masa radikalisasi massa dan gerakan anti-Soeharto sudah saya dengarkan sejak SMA.

Berita tentang perlawanan tokoh seperti Budiman Sujatmiko, Sri Bintang Pamungkas, Moedrik Sangidu, sudah sering saya baca di koran Jawa Pos di Perpustakaan SMAN 1 Durenan. Peristiwa Kuda Tuli dan lain-lain adalah kisah yang bisa saya konsumsi dari media cetak langganan perpustakaan kami.

Berita perlawanan dari hari ke hari tanpa sadar membuat jiwa berlawan kami juga muncul. Memanfaatkan majalah dinding, ada teman yang mengritik partai Golkar dengan gambar kartun. Waktu itu saya lah yang memegang kunci majalah dinding sekolah dalam posisi sebagai Kabid Seni-Sastra di OSIS.

Lalu protes kami terhadap pungutan buku sekolah saat kami mau lulus. (Mungkin ini adalah protes yang salah karena seharusnya sumbangan buku wajib bagi calon alumni yang mau keluar adalah sikap mendukung literasi kan?). Lalu kami dipanggil Wakasek, Pak Moerdani, seorang guru yang bahkan setahun sebelumnya juga mengajak kami pada acara Golkar di Hayamwuruk. (Tentu saja saya tak tahu kalau itu adalah acara partai).

Setelah lulus, saat berada di rumah, sebelum kuliah, berita tentang kerusuhan di Jakarta, penembakan terhadap mahasiswa Tri Sakti, demo besar, hingga turunnya Soeharto, saya saksikan di TV. Itupun TV tetangga. Karena, sebagai keluarga miskin di desa, di rumah kami belum punya TV.

Seingat saya, saya masuk kuliah pada bulan Juli. Datang di kampus, hampir tiap hari ada demo. Saya masih ingat seorang orator berambut gondrong, yang kemudian saya kenal di UKM kesenian, mas Barlean Aji. Pemuda yang orasi dengan suara menggelegar itu ternyata memang seorang pembaca puisi yang baik ketika aku mulai mengenalnya di UKM kesenian. Kemapuannya berorasi sebanding dengan performnya saat baca puisi yang masih sering dilakukan hingga sekarang.

Tahun 1999. Ternyata perlawanan mahasiswa masih berlanjut. Masa transisi menuju demokrasi berisi gejolak politik dan berbagai aksi mahasiswa dan gerakan yang masih berlangsung di mana-mana. Saya masih ingat, bagaimana Mas Mohammad Hadi Makmur seorang aktivis Pers Mahasiswa di LPM Prima FISIP menceritakan kejadian waktu bentrok di Jakarta ketika mahasiswa yang berhadapan dengan aparat menolak Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (UU PKB). Dalam aksi ini ada satu mahasiswa lagi yang meninggal ketika bentrok di depan kampus Atmajaya. Mas Makmur dengan heroik menceritakan kejadian tersebut.

Sebelumnya saya punya pengalaman pertama bentrok dalam sebuah demo dengan aparat militer. Hari TNI 05 Oktober 1999 di depan Kodim  berakhir dengan bentrok dan pengejaran. Sayapun ikut lari terbirit-birit bersama kawan-kawan lainnya. Saya melompat pagar rumahsakit dan sesampainya di teras nafas ngos-ngosan tak terbendung. Bersama tiga orang teman seingat saya. Ada cerita lucu dalam aksi ini, yang kami dengarkan sore hari saat nyantai. Ada teman yang lari dan masuk ke gereja tetapi sandalnya dicopot, kalau tak salah termasuk Irwan As'adi dan Risfitranta Septaniar Alfizzahir.

Pengalaman pertama aksi bentrok ini tak akan bisa kami lupakan. Mengikuti aksi dan diskusi terkait gerakan dan dunia sosial politik ini cukup membantu kami dalam memahami masalah-masalah sosial-politik yang berkembang. Barangkali itu adalah keberuntungan saya masih bisa merasakan sisa-sisa era radikal  gerakan mahasiswa ketika saya masuk kampus tepat setelah Soeharto turun dan gerakan mahasiswa bukannya berhenti tetapi justru berlanjut dengan dinamika yang kadang juga mengalami ekspresi yang radikal.

Memang masih ada pekerjaan gerakan yang masih belum terjawab dan dalam konteks tertentu juga agak terputus. Ada yang bilang reformasi juga belum selesai. Dialektika perjalanan bangsa dalam bingkai gerakan mahasiswa dan kaum pembaharu yang kritis terhadap persoalan ini memang masih menyisakan kebutuhan untuk mengonsolidasikan kekuatan demokratik di era yang  lebih terbuka. Barangkali kata “radikal” yang saya sebut beberapa kali di atas tadi juga harus dimaknai dengan baik.*

(TRENGGALEK, 15/05/2019)

Nurani Soyomukti, penulis buku “Manusia Tanpa Batas”

Pewarta :
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Blitar TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close