Izin Tinggal Overstay, Imigrasi Blitar Deportasi Warga Negara Lebanon

Rabu, 19-06-2019 - 15:39 WIB Fariz Nazer Mouadad diamankan di Kantor Imigrasi Blitar.(Foto : Team BlitarTIMES) Fariz Nazer Mouadad diamankan di Kantor Imigrasi Blitar.(Foto : Team BlitarTIMES)

JATIMTIMES, BLITAR – Fariz Nazer Mouadad (42) warga negara Lebanon harus berurusan dengan petugas Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas II Non TPI Blitar.

Pria yang merupakan warga negara asing itu diamankan petugas, lantaran tinggal di Dusun Selopuro, Kabupaten Blitar melebihi izin tinggal yang diberikan oleh pemerintah. Karena itu, Fariz kini harus diamanakan di Kanim.

"Dia tinggal di wilayah Indonesia melebihi batas izin tinggal yang diberikan. Karena izin tinggal yang dimiliki adalah izin tinggal yang berasal dari bebas visa kunjungan, berlakunya hanya 30 hari dan tidak bisa diperpanjang. Yang bersangkutan tinggal lebih dari 30 hari, overstay selama 69 hari," terang Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Blitar, Muhammad Akram, saat press release dihadapan awak media di ruang pers Kanim Kelas II Blitar, Rabu (19/06/2019).

Akram melanjutkan, atas perbuatan yang dilakukan Faris, Imigrasi memberikan sanksi kepada yang bersangkutan berupa deportasi dari Indonesia. 

Kemudian, sanksi kedua ialah Faris akan diajukan dalam daftar penangkalan untuk masuk kembali ke wilayah negara Indonesia dalam waktu tertentu.

"Sanksi sesuai Pasal 78 ayat (3) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian. Jangka waktu penangkalan, pertama selama enam bulan, dan itu bisa diperpanjang. Saat ini yang bersangkutan masih kami tahan di ruang detensi, sambil menunggu proses pemulangannya karena banyak hal yang harus kita penuhi salah satunya ketersediaan biaya yang harus ditanggung penjaminnya yaitu istrinya," papar Akram.

Kepada awak media Akram menambahkan, Faris Nazer Mouadad datang ke Indonesia melalui bandara Juanda di Surabaya pada tanggal 8 Maret 2019. 

Faris, kata Akram, hanya mengantongi izin tinggal menggunakan bebas visa kunjungan wisata selama 30 hari saja.

Nazer ke Indonesia untuk mendatangi keberadaan istrinya, Puji Lestari, warga Dusun Selopuro, Kabupaten Blitar yang tengah hamil dan hanya ingin menemaninya di rumah. 

Namun, pada akhirnya kehamilan istri Faris mengalami keguguraan. 

"Selain itu, yang bersangkutan juga beralasan bahwa jatuh dari motor sehingga tidak dapat datang ke kantor imigrasi ketika harus mengurus permasalahannya terkait overstay izin tinggal dia," tambahnya.

Diuraikan Akram, sebenarnya Faris saat mengalami overstay (melebihi izin tinggal) selama 30 hari, menjadwalkan pulang ke negaranya pada tanggal 6 Mei 2019 melalui bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta sebagaimana dibuktikan melalui e-ticket yang dimiliki Faris.

Akan tetapi, lantaran biaya kenaikan tarif semula Rp 300.000 menjadi Rp 1.000.000, menyebabkan Faris gagal pulang lantaran tidak mampu membayar denda overstay 30 hari. 

Karena masalah itu juga, mengharuskan Faris kembali ke rumah istrinya di Kabupaten Blitar sambil menunggu kiriman dana dari saudaranya dari Lebanon, hingga tertangkapnya Faris oleh petugas Imigrasi.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Heryanto
Sumber : Blitar TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close