Teganya Mainkan Proyek "Basah" di Daerah Rawan Kekeringan, Begini Modusnya..

Rabu, 19-06-2019 - 20:23 WIB Salah satu warga tunjukkan meteran air yang seharga 1.700 ribu dan kini tak mengalir di Desa Winong (Foto : Anang Basso / TulungagungTIMES) Salah satu warga tunjukkan meteran air yang seharga 1.700 ribu dan kini tak mengalir di Desa Winong (Foto : Anang Basso / TulungagungTIMES)

JATIMTIMES, TULUNGAGUNG – Bagaimana jika proyek yang seharusnya diperbantukan untuk warga yang kekurangan air bersih justru dimanfaatkan untuk mencari keuntungan? Hal ini, diduga terjadi di Desa Winong, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung.

Padahal, memasuki musim kemarau 2019 ini, rutin tiap sore dan pagi hari, warga mencari air bersih di sungai yang mengalirkan sisa-sisa air.

Desa Winong sendiri merupakan desa yang masuk 15 peta desa yang rawan bencana kekeringan. Di tengah kesulitan warga mendapatkan air bersih, bantuan sekitar 100 instalasi air bersih yang diberikan pihak pemerintah kabupaten melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) pada tahun 2018 lalu disinyalir tidak disalurkan ke warga yang membutuhkan.

"Bantuan berupa meteran air dan instalasi pipa ke saluran utama ini seharusnya dibagikan gratis kepada warga," ungkap Suyitno warga Mongkrong, Rabu (19/06) sianS.

Untuk mendapatkan meteran air yang seharusnya gratis, justru dimanfaatkan oleh pihak tertentu dengan "menjual" pada warga seharga Rp 1.750.000 per paket.

“Untuk pasang diminta membayar Rp 1.750.000, diangsur dua kali,” ungkap Yuyun yang juga anak Suyitno, warga RT1 RW 2 Dusun Mongkrong, Desa Winong.

Selain Yuyun, memang ada warga yang mendapatkan bantuan ini secara gratis, namun setelah dipasang air tidak lekas dialirkan dan hanya difoto kemudian dipindah pada orang lain yang mau membayar.

Menurut Ketua Badan Musyawarah (Bamus) Himpunan Penduduk Pemakai Air Tirto Langgeng Dusun Mongkrong, Hermanto, bantuan itu untuk siapa saja yang belum teraliri instalasi air bersih.

“Kami ingin dengan bantuan itu, masyarakat lebih mudah mendapatkan pasokan air bersih selama musim kemarau, nyatanya justru yang terjadi sebaiknya,” ujar Hermanto.

Warga sudah paham dengan permainan pihak yang ingin mendapatkan keuntungan, sehingga beberapa pengurus sudah tidak mau berurusan dengan masalah dan memilih mengundurkan diri.

Dari pantauan TulungagungTIMES, beberapa bantuan sudah dipasang di rumah warga setelah sebagian anggota Bamus mengadukan masalah tersebut ke pemerintah kabupaten.

"Selama beberapa bulan tak ada aktivitas pemasangan, begitu kami mengadu ke bupati, hari ini beberapa orang memasang meteran air lagi," tambahnVi.

Hermanto juga menunjukkan beberapa warga yang membayar dan yang meterannya dicabut setelah dipasang. Satu diantaranya warga bernama Muhammad Nurpranoto dan beberapa warga lain yang merupakan warga kurang mampu.

“Beberapa memang hanya dipasang, diambil foto, tidak lama kemudian dipindah,” sambung Hermanto.

Warga menuntut transparansi terkait bantuan ini karena sangat tidak pantas ada proyek "basah" di tempat bencana kekeringan.

Sementara itu pihak pengelola dan pengurus Hippam Tirto Langgeng Desa Winong hingga kini belum dapat dikonfirmasi terkait masalah tersebut.

Pewarta : Anang Basso
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Sumber : Tulungagung TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close