Ubah Wajah Desa Menuju Kemandirian Pangan, APD Nusantara Sinau Tani ke Ponpes Pomosda Nganjuk

Minggu, 21-07-2019 - 17:09 WIB Delegasi APD Nusantara (kiri) saat sowan Kyai Tanjung.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES) Delegasi APD Nusantara (kiri) saat sowan Kyai Tanjung.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

JATIMTIMES, BLITAR – Ketahanan pangan merupakan masalah kompleks yang penanganannya memerlukan sinergi dari seluruh sektor pembangunan, mulai sektor pertanian, kesehatan, pendidikan, perdagangan dan ekonomi. 

Ketahanan pangan juga sangat strategis mengingat tidak ada negara yang mampu melakukan pembangunan tanpa menyelesaikan terlebih dahulu masalah pangannya.

Upaya-upaya dalam mewujudkan ketahanan pangan tidak hanya bertujuan mencapai status tahan pangan, tetapi juga untuk memperkecil risiko terjadinya kerawanan pangan. 

Ketahanan pangan akan terwujud jika landasan kedaulatan dan kemandirian pangan telah mengakar kuat.

Konsep ketahananan pangan tersebut ditangkap oleh Aliansi Pembaharuan Desa (APD) Nusantara. 

Rencananya konsep Ketahanan Pangan akan mereka masukkan dalam program-program pembangunan di desa-desa di Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. 

Sebagai langkah awal, sejumlah utusan dari APD Nusantara dikirim ke Pondok Pesantren Sumber Daya At-Taqwa (Pomosda) Nganjuk, Sabtu (20/7/2019).

“ Kesadaran untuk memulai mandiri secara finansial dan memanfaatkan sumber daya alam sekitar harus dimulai sejak saat ini. Kecamatan Nglegok” ungkap Abim, delegasi APD Nusantara yang belajar kemandirian pangan di Pomosda.

Pesantren Pomosda merupakan salah satu pesantren modern tertua di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1880 M yang didirikan oleh KH. Hasan Ulama. 

Pesantren ini berlokasi di jalan Wachid Hasyim No. 304 Desa Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.Pesantren ini telah berubah nama hingga tiga kali dari Pesantren Takeran Magetan lalu Pesantren Sabill Muttaqien (PSM) dan terakhir bernama Pondok Modern Sumber Daya At-Taqwa atau disingkat Pomosda Nganjuk.

Pomosda memiliki program kemandirian pola penanaman organik secara vertikultur dan pemanfaatan lahan sempit. Jika traveller datang ke pondok ini akan menjumpai ratusan tanaman vertikultur dari berbagai media tanam, misalanya paralon, karung goni, banner, tong, kaleng bekas, dan lain-lain. 

Selain itu juga ada ribuan tanaman dalam polybag yang mengesankan, tumbuh tanaman sayur-sayuran, tanaman toga, dan masih banyak lagi.

“Masalah saat ini bukan hanya guncangan inflasi dan harga pokok yang tidak stabil serta imbas pembatasan impor barang, Tapi menanam tanaman sehat dan memanfaatkan lahan menjadi salah satu alternatif lain untuk hidup mandiri. Menanam padi, sayuran, buah, atau bumbu dapur secara organik menjadi salah satu cara baik untuk memulai kemandirian pangan dan hidup sehat,” tukasnya.

Abim menyadari, menerapkan program kemandirian pangan di setiap desa ini tidak mudah. Dibutuhkan sinergitas dengan seluruh stakeholder di tingkat desa, kecamatan, pemda serta akademisi. 

Pihaknya juga akan menggandeng Pomosda selaku pelopor kemandirian pangan di Indonesia.

“Masih banyak desa yang program-programnya, khsususnya yang bersumber dari dana desa itu tidak tepat sasaran. Kami menilai program kemandirian pangan inilah yang paling tepat diterapkan saat ini. 

Dengan makanan sehat, orang yang makan juga akan sehat, dengan makanan sehat orang akan berpikir sehat, dan dengan berpikir sehat akan melahirkan ide, gagasan serta tindakan positif. 

Dampaknya apa?, desa maju dan Negara maju,” tegasnya.

Dalam kunjungannya kali ini, delegasi APD Nusantara bertemu langsung dengan Pengasuh Ponpes Pomosda Nganjut, Kyai Tanjung. 

Sowan para delegasi dilaksanakan setelah mereka selesai mengikuti Kajian Annubuwah Nusantara oleh Kyai Tanjung di Ponpes Pomosda, Sabtu (20/7/2019) malam.

Dalam pertemuan itu, Kyai Tanjung menyambut baik dan mendukung rencana penerapan program kemandirian pangan di desa-desa yang diusung APD Nusantara.

“Pergerakan kalian (APD Nusantara) wajar jika ada yang terusik. Itu wajar, jangan patah semangat, lanjutkan perjuangan,” ucap Kyai Tanjung.

Lanjut di kesempatan ini Kyai Tanjung juga menyampaikan, kegagalan program di Birokrasi di era saat ini merupakan hal yang umum terjadi.

“Jangankan kepala desa, Presiden pun programnya banyak yang gagal. Mayoritas program itu bagus pas penyampaian visi-misi pencalonan, setelah jadi mereka bingung mau ngapain, bingung bagaimana cara menerapkan program itu. Penyebabnya apa?, empat pondasi gagal dibangun yakni komunikasi, konsolidasi, sinergi dan simultan,” jelasnya.

Lanjut satu-satunya Kyai yang menggalakkan kemandirian pangan dan energy dan ponpes ini menegaskan, solusi membenahi empat pondasi gagal tadi adalah dengan menggerakkan mindset kolonialisme menjadi mindset nusantara bangkit.

“Mindset Nusantara bangkit itu membangun, membuat program dengan teknologi Nusantara, kemaritiman dan agraria,” tandasnya.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Blitar TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close