Pencipta Pisau ‘King Cobra’ Komando TNI Ternyata Berasal dari Blitar

Senin, 22-07-2019 - 09:28 WIB Nanang menunjukkan pisau Komando buatannya.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES) Nanang menunjukkan pisau Komando buatannya.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)

JATIMTIMES, BLITAR – Indonesia patut berbangga terhadap beragam prestasi militer anak bangsa yang kian diakui dunia. Hal ini juga membuktikan bahwa angkatan bersenjata Republik Indonesia memiliki bakat dan kemampuan kelas internasional. Di antaranya tangguhnya kekuatan fisik prajurit Kopassus atau senapan buatan PT Pindad yang mendunia.

Namun, tak banyak yang tahu bahwa tanah air juga memiliki figur yang tak kalah gaharnya. Salah satunya keahlian sosok Nanang Siswantoro yang membuat pisau komando berkualitas tinggi.

Kisahnya berawal saat jadi anak angkat seorang keluarga TNI di Banyuwangi, Nanang mulai menekuni dunia persenjataan TNI sejak ia lulus SMK tahun 1990. Bersama orang tua angkatnya, ia belajar memproduksi pisau komando TNI, mulai dari pembuatan hingga pemasarannya di satuan militer TNI AD dan marinir.

"Berawal dari orang tua angkat saya yang juga seorang TNI itu, kami bersama-sama belajar membuat pisau komando. Mulai dari belajar memilah bahan, desain, hingga pemasarannya. Itu bertahan hingga sekitar tahun 1999 lalu saya nikah dan pindah di Blitar," ungkap Nanang saat ditemui BLITARTIMES. 

Di Blitar, Nanang terus mengembangkan usaha yang digelutinya dengan mendirikan sebuah perusahaan kecil yang diberi nama 'Nisoku NS 26'. Nama Nisoku berasal dari singkatan bahasa Jawa 'niki isoku' yang berarti inilah kebiasaanku dan NS singkatan dari namanya sendiri serta 26 merupakan tanggal berdirinya usahanya tersebut, yaitu pada tanggal 26 September 1999.

Berangkat dari situ, pisau komando buatannya mulai dikenal di kalangan militer. Hingga pada tahun 2000, pisau buatannya yang berjenis King Cobra mulai dilirik satuan Brimob.

" Pisau King Cobra ini yang pertama buat desainnya saya sendiri dan banyak sekali dijiplak di mana-mana. Akhirnya pada tahun 2002 saya menemui Pak Djarot Syaiful Hidayat (wali kota Blitar saat itu). Waktu itu saya memohon dengan sangat bahwa pisau King Cobra ini adalah karya saya di Blitar. Jadi, saya meminta perlindungan hak cipta dan memagari secara hukum," kenang Nanang.

Pisau komando buatan Nanang tentu berbeda dengan pisau sejenis buatan pabrik. Produk NS 26 Nisoku mengandalkan besi baja tempa, yang mempunyai bobot lebih berat dibandingkan barang pabrikan yang ringan. Para kolektor berpengalaman akan mengerti kualitas antara pisau baja tempa dan pisau besi hasil produksi massal industri.

Hingga pada tahun 2009, produknya pun mulai dikenal di kancah internasional. Perizinan dan standar kualitas yang sudah dikantonginya membuat pisau dan senjata buatannya laris manis di kalangan militer. Bahkan tak jarang ia juga mendapatkan pesanan dari luar negeri. Salah satunya pesanan pedang pora milik satuan polisi negeri jiran Malaysia.

"Waktu itu tahun 2009 produk saya mulai dikenal sampai keluar negeri dan saya dapat pesanan pedang pora milik satuan polisi Kerajaan Malaysia. Waktu itu masih dengan mesin seadanya. Kami butuh waktu satu tahun untuk pesanan 600 unit pedang. Namun dari pihak Malaysia, keuangannya justru kurang bagus," ungkapnya.

Tak berhenti di situ. Berkat ketekunannya, pada tahun 2011 Nanang mendapatkan Anugerah Upakarti Bidang Kepeloporan Ekonomi Kreatif dan Penggerak Ekonomi Kerakyatan. Kini perusahaannya juga memproduksi peralatan berbahan logam. Mulai dari beragam peralatan pertanian dan peternakan. Kini ia juga melibatkan para pandai besi di sekitar Blitar.

"Pisau komando harganya bervariasi, tergantung kualitas bahan dan modelnya. Jenis King Kobra, Rider, Scorpion, dan Combat yang dihargai mulai Rp 150 ribu per biji hingga sekitar Rp 500 ribu perbiji. Pisau kebutuhan rumah tangga atau pisau dapur, dihargai mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 100 ribu per biji," beber Nanang.

Dalam bengkelnya di Jalan Singorejo, Kelurahan Gedog, Blitar, Nanang berhasil menghidupkan ekonomi kreatif belasan pemuda sekitar hingga mendapatkan berkah dari usaha yang digelutinya tersebut. Mereka adalah bagian dari sekitar 20 pekerja pandai besi yang dilibatkan Nanang untuk menghasilkan beragam piranti logam mulai dari pisau, alat pertanian dan peternakan hingga senjata-senjata berkualitas internasional.

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Blitar TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close