Lewat Cerita Rakyat, Tsunami Pantai Selatan Jawa Ternyata Sempat Terjadi 4 Ratus Tahun Lalu

Senin, 22-07-2019 - 09:59 WIB Ilustrasi terkait mitos Kerajaan Mataram Islam dengan kejadian tsunami 400 tahun lalu. (Ist) Ilustrasi terkait mitos Kerajaan Mataram Islam dengan kejadian tsunami 400 tahun lalu. (Ist)

JATIMTIMES, MALANG – Bencana tsunami yang terjadi di selatan pantai Jawa ternyata memiliki jejak terbilang purba. Tidak hanya terjadi pada tahun 1840 sampai tahun 2006 saja, misalnya. Tapi, jauh ke belakang, yaitu sekitar tahun 1600-an atau sekitar empat ratus tahun lalu dengan asumsi plus minus sekitar 30 tahun dari yang diperkirakan itu.

Tsunami  tahun itu, dari berbagai jejak dan penelitian yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merupakan tsunami dalam skala yang luar biasa besarnya.
Hal ini didasarkan juga pada sampel berupa endapan tsunami purba yang berhasil diuji di Japan Nuclear Center. Hasil pengujian yang keluar pada 2 Desember 2017 lalu semakin menguatkan hasil penelitian LIPI terkait peristiwa tsunami sekitar tahun 1600 itu.

Tsunami dengan kekuatan luar biasa yang dipicu gempa bumi dan letusan gunung berapi juga dikuatkan dalam disertasi Alfred Wichmann, seorang ahli geologi Hindia-Belanda. Dalam disertasinya itu, Wichmann mencatat berbagai kejadian tsunami, gempa dan letusan gunung berapi dari tahun 300 sampai 1850 dengan berbagai sumber yang ada.

Rangkaian catatan itu mengerucut pada tahun 1584-1586. Pada tahun itu terjadi dua gempa besar yang mengguncang seluruh selatan Jawa. Diikuti juga dengan meletusnya tiga gunung berapi, yakni Gunung Ringgit, Gunung Kelud, dan Gunung Merbabu.

“Dikatakan gempa itu mengguncang seluruh selatan Jawa. Kalau deskripsinya benar, gempa itu kemungkinan besar terjadi di jalur subduksi selatan Jawa (di lautan), bukan daratan Pulau Jawa," ucap Eko Yulianto, pelacak jejak tsunami purba dari LIPI, seperti dilansir juga oleh Kompas.

Gempa besar dan letusan gunung berapi inilah yang memicu terjadinya tsunami sekitar tahun 1600 atau sekitar 400 tahun lalu. Keyakinan itu juga didasarkan berbagai bukti yang diperoleh oleh tim peneliti LIPI di berbagai pantai selatan Jawa, baik di Lebak, Ciledug, Pangandaran dan sekitarnya, Cilacap, Kutoarjo, Lumajang bahkan selatan Bali. “Kami menyimpulkannya, tsunami besar itu pernah terjadi 400 tahun lalu,” ucap Eko.

Uniknya, peristiwa tsunami dengan skala luar biasa itu jarang terekspos masif secara ilmiah. Kebalikannya, peristiwa 400 tahun lalu tersebut lebih banyak ditemukan dalam berbagai mitos atau cerita turun temurun secara lisan terkait dengan berdirinya Kerajaan Mataram Islam serta beberapa kisah terkait rencana perang dari Kerajaan Pajang pimpinan Sultan Hadiwijaya.

Dalam berbagai versi di buku sejarah, diceritakan Sultan Hadiwijaya  akan menyerbu Sultan Panembahan. Tapi dia terhalang oleh aliran lahar Gunung Merapi dan terpaksa kembali. Dalam perjalanan, Hadiwijaya terjatuh dari gajah tunggangannya dan meninggal.

Aliran lahar Gunung Merapi itu, dalam versi Babad Jawi, dikisahkan sebagai usaha Ki Ageng Pemanahan yang meminta bantuan penguasa Merapi atas rencana serangan dari Kerajaan Pajang. Sedangkan Panembahan Senopati atau Sutawijaya meminta bantuan dari penguasa Laut Selatan, yaitu Nyi Roro Kidul, dalam upaya menghalau pasukan musuh dan rencana mendirikan Kerajaan Mataram Islam.

Sebelum disepakati adanya bantuan Nyi Roro Kidul, semedi Sutawijaya telah membuat gelombang sangat panas yang meluluhlantakkan berbagai kawasan dan akhirnya mengganggu rakyat Roro Kidul. Sehingga sang ratu penguasa Laut Selatan pun datang menemuinya dan berjanji membantu mendirikan Kerajaan Mataram Islam.

Metafora kisah-kisah mitos itu, menurut Eko, merupakan bukti Sutawijaya merupakan orang yang sangat cerdas dalam berpolitik. Eko mendapatkan kesimpulan dari kisah tersebut bahwa Sutawijaya berhasil memanfaatkan suatu peristiwa alam, yaitu tsunami dan letusan gunung berapi  tahun itu, untuk menambah legitimasinya sebagai raja.

Lepas dari adanya mitos tersebut, Eko menyampaikan bahwa masyarakat di zaman lalu telah memberikan pesan kuat untuk generasinya, khususnya yang berdomisili di sekitar wilayah Samudera Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara, untuk tetap waspada terhadap berbagai potensi bencana alam, baik gempa besar dan tsunami yang sempat berkali-kali terjadi. Termasuk yang saat ini ramai dibicarakan, yakni potensi gempa besar di Jawa bagian selatan hingga memicu tsunami setinggi 20 meter. 

 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close