Pecinta Binatang Eksotik Tulungagung Berkumpul Dalam Wadah TEAm

Senin, 22-07-2019 - 17:46 WIB Anggota TEAm saat gathering di alun-alun Tulungagung (foto : Joko Pramono/Jatim Times) Anggota TEAm saat gathering di alun-alun Tulungagung (foto : Joko Pramono/Jatim Times)

JATIMTIMES, TULUNGAGUNG – Ular identik dengan binatang berbahaya. Namun tidak ditangan anggota komunitas ini. Komunitas pecinta binatang eksotik yang tergabung dalam TEAm (Tulungagung Eksotik Animal). Sekumpulan orang yang suka memeliharan binatang eksotik atau diluar kebiasaan.

Jika biasanya orang memilih burung, kambing, anjing atau binatang jinak lainya sebagai binatang peliharaan, anggota  TEAm lebih suka memelihara binatang seperti ular, tokek, musang atau binatang liar lainya.

“Ada ular, gecko (tokek), tarantula (sejenis laba-laba besar), iguana pokoknya binatang yang tidak biasa dipelihara orang,” ujar ketua TEAm, Ida Kurniawati.

Komunitas yang beranggotakan 20 orang di Tulungagung itu biasa kumpul tiap minggu di Alun-alun Tulungagung. Namun jumlah itu meningkat sat ada gathering yang diadakan tiap 3 bulan sekali dari eks  Karesidenan Kediri.

“Kalau tiap minggu yang aktif kumpul-kumpul sekitar 15 orang,” ujar ibu rumah tangga asal Desa Mojoarum, gondang itu lebih lanjut.

Salah satu anggota TEAm tunjukan ular peliharaanya (foto : Joko Pramono)

Ular yang biasa dipelihara oleh anggota komunitas ini berjenis phyton yang tidak beracun. Ular yang dipelihara biasanyab hasil dari ternakan sendiri. Untuk harga berkisar antara 100 ribu hingga 1 juta, tergantung jenis dan ukuran.

“Untuk sanca biasa 100 ribu, yang albino (tidak mempunyai warna atau putih) sekitar 1 juta, itu ukuran baby (bayi),” terang Ida.

Selain kumpul-kumpul tiap minggu, komunitasnya juga aktif memberikan sosialisasi kepada siswa di sekolah untuk konservasi alam. Seperti melepaskan ular hasil ternaknya kea lam liar.

“Kalau ada ular jangan dibunuh, kalau tidak berbahaya di biarkan saja,” tutur Ida.

Komunitas yang berdiri sejak 2013 lalu itu juga membuka jasa mengusir ular yang masuk ke dalam rumah secara gratis. Hal itu bertujuan selain melestarikan ular, juga menyelamatkan pemilik rumah (manusianya) dan ular.

Untuk perawatan sendiri tergolong mudah, asal di beri makanan berupa mencit (tikus putih) setiap minggunya dan juga air minum.

Saat ini dirumahnya ada 12 ular dari berbagai jenis. Untuk memenuhi kebutuhan pakan, Ida juga ternak mencit. Para kolektorm ular biassanya membeli mencit hasil ternaknya untuk pakan ular koleksi mereka.

Pewarta : Joko Pramono
Editor : Moch. R. Abdul Fatah
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Tulungagung TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close