Pasca Ricuh di Malang, Wali Kota dan Kapolresta Diskusi dengan Perwakilan Kemenkopolhukam, Apa yang Dibicarakan?

Kamis, 22-08-2019 - 07:12 WIB Dari kiri, Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri, Wali Kota Malang, Sutiaji dan Kepala Bagian Tata Usaha dan Umum Sekretariat Deputi Bidang Kamtibmas (Anggara Sudiongko/MalangTIMES) Dari kiri, Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri, Wali Kota Malang, Sutiaji dan Kepala Bagian Tata Usaha dan Umum Sekretariat Deputi Bidang Kamtibmas (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

JATIMTIMES, MALANG – Pasca kejadian kericuhan beberapa waktu lalu di Kota Malang, Wali Kota Malang, Sutiaji dan Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri SIK, SH, MH berdiskusi dengan Sekretariat Deputi Bidang Kamtibmas, Kemenpolhukam, Brigjen Pol Erwin Chahara Rusmana, Rabu malam (21/8/3019), di salah satu kafe di Kota Malang.

Dalam pertemuan tersebut, membahas seputar bagaimana dalam menjaga kondusivitas di Kota Malang yang beberapa hari belakangan sempat panas dengan adanya kericuhan yang melibatkan mahasiswa asal Papua dan masyarakat sekitar.

"Kita tak ingin kejadian ini terulang. Semua  tokoh dan masyarakat harus bahu membahu untuk berusaha menciptakan kondusivitas kotanya masing-masing. Karena kondusivitas kota dibangun oleh kekuatan masyarakat. Bukan hanya kapolres, wali kota," jelas Brigjen Pol Erwin Chahara Rusmana, pria yang pernah menjabat sebagai Kapolres Malang itu.

Selain itu, dalam upaya menciptakan kondusivitas, langkah kongkritnya, seperti perlu dilakukan kolaborasi kegiatan positif antara masyarakat dengan mahasiswa Papua yang belajar di Kota Malang. Sebab, jumlah mahasiswa Papua di Kota Malang cukup banyak, sekitar 1100 mahasiswa.

"Percepat pengenalan budaya, bagaimana karakteristik orang Papua, supaya cepat kolaborasi dengan suasana orang Malang yang sangat familiar dan terbuka. Bawa kenyamanan yang ada di Malang bisa menginfluen atau berkolaborasi dengan teman-teman Papua. Sebetulnya ini tidaklah sulit," jelasnya.

Kemudian, dalam fase pengkondusivitasan, peran media sebagai jembatan penginformasi juga sangat penting. Tingkat pusat, tingkat provinsi maupun daerah, serta dari pihak aparat dan media perlu bersinergi bahu-membahu, dalam membangun kondusivitas.

"Jika terdapat indikasi masalah, harus mendeteksi dini, mendeteksi dini jangan berharap pada aparatur saja, namun semua komponen masyarakat harus bahu membahu. Dan masyarakat inti salah satunya adalah media," paparnya.

Dijelaskannya lebih lanjut, unsur aparatur maupun pemerintahan setempat, perlu melakukan pemetaan lokasi tinggal mahasiswa Papua, dimana dalam hal ini Bhabinkamtibmas maupun unsur terkait diharapkan bisa selalu menjalin komunikasi positif dengan mahasiswa Papua.

Hal ini bertujuan, tentu untuk membantah adanya kabar-kabar miring yang belum tentu kebenarannya. Dengan menunjukan kebersamaan dan kedekatan, tentunya isu-isu hoaks akan dengan sendiri terkikis.
Sementara media sendiri bisa memberikan suatu informasi yang sesuai dengan realita yang ada, sehingga bisa mengikis suatu informasi yang belum terbukti kebenarannya.

"Karena permasalahan utama pada adik-adik mahasiswa ini kan karena pengaruh hoaks yang berjalan. Kecepatan hoaks dengan kecepatan media untuk mengantisipasi kurang berimbang. Oleh karena itu kita perlu bekerja keras, baik itu pemerintah pusat, provinsi, daerah berkolaborasi dengan media pusat maupun media daerah. Kami harapkan, jangan ada informasi-informasi yang membuat suasana tak kondusif," paparnya.

 

 

Sementara itu, sebagai upaya mengondusifkan situasi, pada 26 Agustus 2019 mendatang, Wali Kota Malang, Sutiaji, bakal mengumpulkan para Ketua RT maupun RW di seluruh Kota Malang, serta kalangan Perguruan Tinggi (PT). Di sana akan dilakukan paparan mengenai dialog kebangsaan untuk semakin memupuk rasa persatuan dan kesatuan.

"Jadi kita bangun kesepahaman,skita bangun satu visi. Kita berikan informasi sesungguhnya, saya khawatir jika RT, RW tidak dapat informasi secara benar, takutnya bisa terjadi salah informasi, bahwa mahasiwa Papua membuat kacau dan sebagainya, padahal kan tidak. Ini yang perlu kami sampaikan secara langsung ke seluruh RT, RW di Kota Malang," jelasnya.

Dan dalam dialog kebangsaan tersebut, pihaknya juga meminta dari pihak PT, untuk bisa menghadirkan beberapa mahasiswa yang berasal dari Papua dan daerah lain, untuk bersama-sama membangun ke- Bhinnekaan.

"Saya ingin menunjukkan, jika Malang tidak ada yang perlu dikhawatirkan," pungkasnya.

Pewarta : Anggara Sudiongko
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close