Tambah Massa Bangunan, Camp Assesment Dinsos Kota Malang Beri Layanan Ini

Kamis, 22-08-2019 - 09:36 WIB Camp Assesment Dinas Sosial Kota Malang menjadi salah satu fasilitas yang dimiliki Pemerintah Kota Malang untuk memberi pendampingan pada masyarakat tuna sosial (Pipit Anggraeni/MalangTIMES). Camp Assesment Dinas Sosial Kota Malang menjadi salah satu fasilitas yang dimiliki Pemerintah Kota Malang untuk memberi pendampingan pada masyarakat tuna sosial (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

JATIMTIMES, MALANG – Camp Assesment yang dimiliki Dinas Sosial (Dinsos) Kota Malang telah beroperasi sejak Februari 2019. Hingga Agustus, tercatat ada 228 klien yang mendapat pembinaan dan pendampingan. Lantaran jumlah klien yang cukup banyak itu, Dinsos saat ini kembali menambah massa bangunan.

"Kita tambah bangunan untuk jadi lantai dua. Karena memang bangunan yang sekarang kurang," kata Plt. Kepala Dinsos Kota Malang, Penny Indriani pada MalangTIMES belum lama ini.

Menurutnya, saat ini kurang lebih ada 30 kamar yang disediakan untuk klien yang mendapat pendampingan di Camp Assesment. Dengan adanya penambahan massa bangunan di lantai dua, menurutnya kurang lebih akan ada tambahan 30 kamar baru.

Dia menjelaskan, ratusan klien yang terdata hingga Agustus itu tidak seluruhnya mendapat pendampingan hingga hari ini. Melainkan kedatangan mereka memang selalu silih berganti. Kebanyakan didapatkan dalam razia gabungan yang dilakukan oleh Dinsos Kota Malang dan Satpol PP Kota Malang. Selain itu tak sedikit yang datang dari laporan masyarakat.

"Klien yang terjaring akan didata. Ketika masih ada keluarganya akan kami kembalikan. Ketika yang bersangkutan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) akan kami sampaikan ke rumah sakit jiwa, dan yang gelandangan kami sampaikan kepada Provinsi Jatim untuk mendapat pelatihan agar memiliki keterampilan bekerja," terangnya.

Sementara itu, Pekerja Sosial (Peksos) Camp Assesment Dinas Sosial Kota Malang, Anggun Dwi Prameswari menambahkan, lama pembinaan bagi masing-masing klien tak sama. Lantaran memang memiliki kebutuhan dan perlakuan yang berbeda. Karena klien yang terjaring mulai dari anak-anak hingga lansia.

Dia menjelaskan, pembinaan tak sepenuhnya dilakukan di Camp Assesment. Petugas akan mendata secara keseluruhan klien yang terjaring dan memberikan beberapa aktivitas yang bisa dilakukan sebelum akhirnya diputuskan untuk dikembalikan kepada keluarga, diserahkan kepada lembaga Bina Karya, panti jompo, panti asuhan, atau ke rumah sakit jiwa.

"Ada beberapa yang kembalikan ke keluarga, tapi kemudian kembali ke jalan dan terjaring lagi," imbuh perempuan berhijab itu.

Sementara bagi anak jalanan atau pengamen yang masih sekolah dan terjaring razia, menurutnya anak yang bersangkutan akan didata dan dikembalikan kepada orangtua. Namun tak berhenti di situ, Dinsos harus tetap memantau aktivitas anak tersebut agar tak lagi turun ke jalan mengamen.

"Kami lakukan home visit sebagai kelanjutannya agar mereka tak lagi tergantung pada jalanan," imbuhnya.

Lebih jauh dia menyampaikan, selama proses di Camp Assesment, klien akan diajak melakukan berbagai aktivitas. Mulai dari senam pagi, beribadah, hingga bermain game bagi anak-anak. Tujuannya adalah agar para klien tersebut tidak merasa bosan.

"Juga ada pembinaan seperti membaca dan lain sebagainya," jelasnya.

 

Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close