Viral Balita Maki Orang Tuanya, Pakar Psikologi UB: Harus Diberi Efek Jera

Kamis, 09-08-2018 - 08:00 WIB Seorang bocah yang fasih misuh. (Foto: Instagram) Seorang bocah yang fasih misuh. (Foto: Instagram)

JATIMTIMES, MALANG – Bukan rahasia umum jika pendidikan orang tua dan lingkungan menjadi salah satu faktor pembentukan karakter seorang anak. Tingkah dan perilaku anak secara terstruktur akan mengikuti apa yang dilihatnya setiap hari.

Seperti sebuah video yang belum lama viral di media sosial. Video itu nerekam seorang bocah laki-laki yang marah-marah sambil "misuh" saat diminta pulang oleh orang tuanya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, "misuh" berarti memaki atau mengatai. Biasanya kerap dilontarkan mereka yang merasa kesal.

Dalam video tersebut, bocah berbadan gemuk yang diperkirakan masih berusia lima tahun itu tampak menangis saat diminta pulang ke rumah kala bermain. Karena merasa kesal dan masih ingin bermain, anak ini menangis sambil misuh-misuh dalam bahasa Jawa.

 

 

Percakapan yang terekam menunjukkan logat Jawa Timuran sehingga diperkirakan kejadian ini ada di wilayah Jawa Timur. "Jan**k raimu as*, matamu. Emoh c*k.. ," begitu si bocah memaki dan mencoba melawan dengan menyeret sepeda yang dibawanya.

Video ini menuai keprihatinan dari netizen. Kebanyakan mereka menganggap orang tuanya tidak mampu memberikan contoh yang baik bagi anak. Sementara itu, pakar psikologi Universitas Brawijaya (UB) Ilhamuddin Nukman SPsi MA CHt CMH memandang hal tersebut sebagai habit yang terbentuk karena pola berulang-berulang dan memiliki kekuatan emosi. "Kebiasaan dibentuk oleh perilaku yang terus-menerus sembari diikuti oleh penguat respons perilaku,"ujar pria yang akrab disapa Ilham ini.

"Setiap anak tidak mengenal misuh. Mereka mengerti misuh dari situasi, perilaku, atau kebiasaan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Pengenalan ini menimbulkan dorongan untuk melakukan uji coba. Jika saat itu mendapatkan penguat, seperti rasa lucu dari orang sekitar atau yang lain, maka si anak akan mendapatkan alasan yang cukup baik untuk mengulangi kebiasaan tersebut," ungkap penulis buku best seller Life to Alive ini. 

Untuk menghentikan kebiasan yang tidak sesuai dengan norma, Ilham menganjurkan orang tua untuk memberikan punishment (hukuman) kepada anak untuk efek jera. "Jika sedari awal orang tua atau orang-orang di sekitar anak tersebut menyadari perilaku yang tidak tepat ini, maka mereka harus segera menghukum atau memberi rasa sakit yang mampu menghentikan kebiasaan tersebut. Nah ini disebut dengan reinforcement (penguat) negatif," kata Ilham.

Tenaga pendidik di Jurusan Psikologi Universitas Brawijaya ini juga memprediksi, lingkungan si anak terbiasa dengan misuh. Karena itu, muncul kebiasaan "misuh" pada anak tersebut. (*)

 

Pewarta : Hezza Sukmasita
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close