Imigrasi Jember Deportasi Dua Santri Thailand dan Satu Warga Jerman

Jum'at, 10-08-2018 - 14:25 WIB Kepala Kantor Imigrasi Kelas II A Jember saat menggelar press release serta dua santri di belakangnya yang akan dideportasi. (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES) Kepala Kantor Imigrasi Kelas II A Jember saat menggelar press release serta dua santri di belakangnya yang akan dideportasi. (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)

JATIMTIMES, JEMBER – Kantor Imigrasi Kelas II A Jember mendeportasi tiga warga negara asing (WNA). Pendeportasian ini, dilakukan karena ketiganya menyalahi aturan tinggal di Indonesia. Mereka adalah Daniela Davish asal Jerman serta Kusoi Kuna dan Al Imron Sa Mae. Dua nama terakhir adalah warga Thailand yang sedang mondok di salah satu pesantren di Situbondo.

“Mereka telah menyalahi ijin tinggal di Indonesia. Daniela menggunakan visa kunjung, tapi ternyata yang bersangkutan bekerja sama dengan WNI mengelola Ijen Shelter di Licin Banyuwangi. Sedangkan dua pelajar izin tinggalnya sudah habis dan tidak dilakukan perpanjanan sampai overstay 227 hari,” ujar Kepala Kantor Imigrasi Jember Kartana SH, Jumat (10/8/2018).

Daniela masuk ke Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta pada 17 Juli 2017. Perempuan kelahiran 1974 ini dianggap melanggar Pasal 75 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, sehingga yang bersangkutan dideportasi dan dilakukan pencekalan.

Sedangkan untuk dua pelajar atau santri yang mondok dikenakan Pasal 78 Ayat 3 UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian. Mereka overstay atau melebih izin tinggal lebih dari 227 hari. “Ketiganya overstay atau melebih izin tinggal. Kami tidak memberikan denda kepada ketiganya, tapi langsung melakukan deportasi dan pencekalan, karena denda hanya berlaku bagi warga asing yang overstay tidak lebih dari 60 hari,” tambah Kartana.

Sementara, Hendik -salah satu pengurus dari pesantren asal Situbondo yang mendampingi kedua santri selama di kantor imigrasi- mengatakan, pihaknya tidak mengetahui kalau kedua santri tersebut izin tinggalnya sudah habis.

“Di pesantren kami memang banyak warga asingnya, terutama dari Thailand. Untuk kedua santri yang akan dideportasi ini, kami baru tahu kalau visanya sudah mati. Saat mau kami urus perpanjangannya, ternyata sudah tidak bisa. Ya mau gimana lagi, kami harus mengikuti aturan,” ujar Hendik. (*)

Pewarta : Moh. Ali Mahrus
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Jember TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close