Mendengar Kisah Mbah Darsono, Pejuang Kemerdekaan yang Pernah Mengamankan Supriyadi Sang Pahlawan PETA

Jum'at, 10-08-2018 - 17:17 WIB Darsono menceritakan tempat yang pernah dikunjunginya pada saat mengamankan Sudanco Supriyadi. (Foto:M. Dona Doni/BlitarTIMES) Darsono menceritakan tempat yang pernah dikunjunginya pada saat mengamankan Sudanco Supriyadi. (Foto:M. Dona Doni/BlitarTIMES)

JATIMTIMES, BLITAR – Ojo urip tanpa guno yang artinya jangan hidup tanpa mempunyai manfaat. Menjadi sebuah ungkapan yang dipegang oleh Mbah Darsono seorang pejuang kemerdekaan yang pernah berjuang melawan penjajahan Jepang pada tahun 1945 lalu.

Meski di usianya menginjak 89 tahun ini dia tetap terlihat segar dan terlihat sehat di usia yang tergolong senja ini. Saat ditemui BlitarTIMES pada Jumat (10/8/2018), dia dengan semangatnya menceritakan masa mudanya yang penuh dengan perjuangan itu.

Perjuangan pada waktu itu bagi dia merupakan sesuatu yang berat dan butuh pengorbanan. Namun semua pengorbanan itu demi mencapai kemerdekaan bagi bangsa yang kini dirasakan oleh anak cucunya.

“Sengsara pokoknya pada saat itu sekolah sulit, berorganisasi sulit, ya gak enak pada zaman penjajahan dulu,” ujar Darsono.

Bahkan dia menceritakan pada saat dirinya berusia 15 tahun sudah diwajibkan latihan militer. Tergabung dalam Sainendan, sebuah organisasi semi militer untuk para remaja usia 14 hingga 22 tahun.

Kejadian paling berkesan baginya adalah di saat mengamankan Shodanco Supriyadi, pemimpin Pemberontakan PETA pada 14 Februari 1945 silam.

Pada tanggal 14 sore dia mengamankan Supriyadi dari tangkapan tentara Jepang bersembunyi di sebuah tempat pemakaman kuno di Desa Sumberagung, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar.

Waktu itu, dia bersama empat orang teman Supriyadi dan guru spiritual Supriyadi. Supriyadi disembunyikan di sebuah beringin tua besar di sebuah kuburan kuno hingga tidak diketahui tentara Jepang.

Selanjutnya keesokan paginya pada 15 Februari, Supriyadi minta diantarkan di Gunung Gedang di sekitaran Gunung Kelud. Di sana mereka menemui sebuah goa, dan di situ dia melihat Supriyadi diberikan sebuah pusaka oleh guru spiritual Supriyadi.

“Pusaka itu seperti keris dan bila dilepas bisa menghilang penggunanya. Ternyata benar pada waktu itu saat kita berbalik badan, mas Supriyadi sudah menghilang,” katanya.

Setelahnya, walau pemberontakan PETA di Blitar ini berhasil ditumpas Jepang, selanjutnya seluruh bangsa bersatu. Dan akhirnya Republik Indonesia menuju kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

“Jadi kita harus mengisi kemerdekaan ini dengan hal yang baik jangan biarkan ada perpecahan hanya disulut isu SARA. Karena dulu kita memperjuangkan kemerdekaan sulit. Maka dari itu ada kata bangsa yang besar menghargai jasa pahlawannya,” pesannya. (*)

Pewarta : Meidian Dona Doni
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Blitar TIMES
Share Berita ini:

Berita Terkait

Berita Terbaru

Fokus Berita

Back to top

Share Page

Facebook Twitter Google Text Email
Close